AR Mutajalli

Buktikan Pada Dunia Bahwa Kita Pernah Ada Dengan Karya Dan Tulisan

  • Home
  • About
  • Vlog
  • Hobi
  • Jurnalistik
  • Galeri
Home » Archive for September 2013

Wednesday, September 11, 2013

Makalah: Sejarah dan Perkembangan Media Online di Indonesia

Makalah: Sejarah dan Perkembangan Media Online di Indonesia
PENDAHULUAN

Media Online atau biasa disebut dengan internet adalah hasil dari perkembangan teknologi komunikasi yang menawarkan kepada pengguna sebagai media yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar manusia. Media ini bisa mengantarkan teks, grafik, gambar, audio dan juga audio-video pada saat yang sama dan juga mempunyai fungsi sebagai media massa seperti halnya televisi radio juga surat kabar.

Media online disebut juga dengan media interaktif, yaitu suatu jenis media kolaboratif, mengacu pada media yang memungkinkan partisipasi aktif oleh penerima dan pengirim.

Definisi yang cukup teknis dinyatakan oleh Federal Networking Council, yang menyatakan Media Online mengacu kepada sistem informasi global yang secara logis dihubungkan oleh ruang alamat global yang unik didasarkan pada Internet Protocol (IP) atau ekstensi dan menyediakan, menggunakan atau membuat dapat diakses, baik umum atau pribadi, layanan tingkat tinggi berlapis pada komunikasi dan infrastruktur terkait.

Media online (online media) juga berarti media massa yang tersaji secara online di situs web (website) internet. Media online adalah media massa “generasi ketiga” setelah media cetak (printed media) koran, tabloid, majalah, buku dan media elektronik (electronic media) radio, televisi, dan film/video. Media Online merupakan produk jurnalistik online. Jurnalistik online disebut juga cyber journalism didefinisikan sebagai “pelaporan fakta atau peristiwa yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet”.

Dari berbagai definisi tersebut, ada beberapa hal yang dikategorikan sebagai karakteristik media online. Media online bersifat real time sehingga proses publikasi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dapat memuat berbagai macam model multimedia (audio, video dll) dan mendukung interaktifitas antar user.

Kelebihan Media Online

Meskipun secara prinsip media online sama dengan media cetak, namun terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Media online tidak terbatas dalam hal jumlah halaman seperti halnya media cetak. Namun demi alasan kecepatan akses, keindahan desain, tingkat keterbacaan dan alasan-alasan lainnya, perlu dihindarkan penulisan naskah yang terlalu panjang.

Mekanisme dalam prosedur naskah cenderung lebih simple karena media online mengejar kecepatan. Proses editing sekaligus publishing sering dilakukan oleh bagian yang sama. Mekanisme editing juga bisa dilakukan ketika sudah dipublish.

Jadwal terbit media online sangat ketat. Informasi yang disajikan oleh media online sangat real time. Ketika peristiwa itu berlangsung, pada saat itu juga media online menginformasikannya. Berbeda dengan media cetak yang perlu durasi harian, mingguan atau bulanan. Proses publikasi inheren dengan kerja bagian redaksi. Berita yang sudah ditulis sudah otomatis terdistribusi ke jaringan.

PEMBAHSAN

Sejarah Jurnalisme Online

Online journalism atau lebih dikenal dengan nama jurnalisme online lahir pada tanggal 19 Januari 1998, ketika Mark Drugde membeberkan cerita perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut “monicagate”. Ketika itu, Drugde berbekal sebuah laptop dan modem, menyiarkan berita tentang “monicagate” melalui internet. Semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rincian cerita “monicagate”.

Perkembangan Media Online di Indonesia

Sejarah kemunculan media online di Indonesia dimulai oleh Majalah Mingguan Tempo pada 6 Maret 1996. Alasan pendirian Tempo pada waktu itu adalah semata-mata agar media itu tidak mati karena media cetak Tempo pada saat itu sedang dibreidel. 

Di Indonesia media online pada awalnya hanya memindahkan isi berita yang yang ada di surat kabar/koran ke media internet atau dalam istilahnya di online-kan. Dengan kata lain produk berita versi cetak dengan online tidak ada perbedaan, sama persis. Lain halnya dengan Detikcom, yang dilakukan oleh situs www.detik.com pada pertengahan Juli 1998, tidaklah demikian. Detikcom tidak memindahkan berita versi cetak ke online. 

Detikcom tidak punya versi cetak, meski dalam perkembangannya pernah membuat versi cetak. Hanya saja dengan terbit dua kali sehari versi cetaknya tidak berumur panjang dan harus segera ditutup. Selanjutnya kembali ke online saja dan berita-berita yang ditampilkan hanya ada di online. Berita-beritanya juga selalu up to date sehingga menjadi acuan banyak orang.

Detikcom adalah media online berupa portal berita pertama di Indonesia yang benar-benar menjual konten dan menerbitkan informasi secara update dan real time. Hingga saat ini, Detikcom menjadi portal yang paling banyak diakses. Keberhasilan Detikcom kemudian ditiru oleh berbagai perusahaan lain.

Dalam segi bisnis, Detikcom adalah pioner media online di Indonesia. Server detikcom sebenarnya sudah siap diakses pada 30 Mei 1998, namun baru mulai online dengan sajian lengkap pada 9 Juli 1998. 
Menjamurnya Media Online

Seperti juga di internasional, di Indonesia pertumbuhan internet dan media online menjadi pesaing bagi media cetak. Sebagai bentuk reaksi, banyak media cetak yang kemudian juga membuat portal berita dalam versi online. Muncul kompas cyber, media indonesia dll. Juga muncul portal pesaing Detikcom seperti OkeZone.com, VivaNews.com dll.

Perkembangan internet juga turut mempangaruhi perkembangan media online di Indonesia. Berdasarkan data, Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO), pada tahun 2009 jumlah pengguna internet mencapai 45 juta. Padahal, pada tahun 2006 hanya 20 juta pengguna dan menjadi 25 juta orang untuk tahun 2007. Bahkan, jika ditarik ke belakang, pada tahun 1999 jumlah pengguna internet di Indonesia baru ada di angka 1 juta pengguna.

Peluang Bisnis Media Online

Angka-angka di atas tentu saja menggiurkan dari segi bisnis. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Harris Thajeb mengatakan pihaknya saat ini membidik media online karena memiliki potensi yang cukup besar dan tahun ini diperkirakan tumbuh 11-12 persen. Ia menjelaskan, selama 2010 nilai belanja iklan se-Indonesia total mencapai sekitar Rp. 65 triliun. Dari jumlah itu, nilai belanja iklan di media online baru sekitar 1-2 persen. Namun nilai belanja iklan di media internet pada 2012 diperkirakan tumbuh sekitar 11-12 persen dari nilai belanja iklan di seluruh media se-Indonesia.

Tidak hanya pendapatan dari iklan, beberapa media online juga mulai mencoba mengenakan biaya bagi pengakses web mereka. Salah satu media yang melakukannya adalah e-paper Kompas. Hal ini senada dengan yang terjadi di luar negeri dimana media online di Indonesia juga mulai bergerak ke arah media online yang kapitalistik. 

Analisis Media Online

Seiring maraknya penggunaan teknologi komunikasi di Indonesia, keberadaan berbagai portal/situs berita kini menjadi sumber utama masyarakat Indonesia dalam dalam mengakses informasi selain televisi. Inilah yang diklaim sebagai era journalisme online. Sayangnya, dalam menjawab kebutuahan aktualitas informasi ini, para pekerja media online lebih banyak memenuhi tuntutan pola kerja yang cepat dan selalu mengejar aktualitas daripada mematuhi prinsip-prinsip jurnalistik. 

Nilai berita yang mendasar seperti akurasi, keseimbangan, proporsionalitas, dan netralitas serta kaidah-kaidah jurnalisme cenderung dinomor duakan. Berita online kerap hadir terpotong-potong, disusun tanpa proses matang dalam mekanisme rapat redaksi. Karena jurnalisme kuning menonjolkan kecepatan daripada berita (fakta) itu sendiri, maka beritanya menjadi tidak penting atau dan kadang menyesatkan atau setidaknya membentuk opini tertentu yang pada akhirnya menjadikan masyakat semakin kehilangan makna informasi meski jumlahnya melimpah.

Dari kacamata akademis, kehadiran jurnalisme online  ternyata menimbulkan kontroversi. Ada yang dapat menerima secara penuh dan memberikan penguatan, ada yang menerima dengan catatan, ada pula yang mengkritik dan bersikap skeptis. Pihak yang kontra bahkan mempersoalkan keabsahan penggunaan istilah “jurnalisme” karena secara metodologis rasanya tidak tepat jika kegiatan yang hanya sekadar menulis berita demi mengejar kecepatan disebut sebagai jurnalisme.

Selain itu, pihak KOMINFO tidak bisa mengontrol menjamurnya media online, karena menurut Dirjen Komunikasi Informasi dan Komunikasi Publik, Drs. Freddy H. Tulung, MUA. Mereka tidak punya wewenang untuk mengatur dan mengontrol munculnya media online yang tidak kompetibel. Karena menurutnya perizinan untuk membuat media online tidak serumit membuat media elektronik lain seperti radio atau televisi, bahkan bisa dikatakan tidak membutuhkan izin. 

PENUTUP

Media online yang menjamur tanpa bisa dikendalikan harusnya menjadi prestasi bagi Indonesia. Karena menandakan bahwa Indonesia merupakan negara yang mengalami perkembangan teknologi dengan pengguna internet yang sangat banyak. Selain itu pengguna internet bersifat aktif dengan menjamurnya media online, namun dalam menyampaikan isi postingan di media online harus memperhatikan keakuratan data agar tidak menyesatkan pembaca dan masyarakat.

Warga juga dituntut untuk aktif dalam menyampaikan informasi yang terjadi disekitarnya. Karena dengan pesatnya perkembangan teknologi setiap masyarakat seakan dipaksa untuk menjadi masyarakat dunia dengan berpartisipasi dalam dunia maya. Karena mau tidak mau perkembangan teknologi sudah merubah dunia ini menjadi seperti desa, dimana informasi bisa tersebar luas dengan begitu cepat dari belahan bumi utara sampai belahan bumi selatan atau dalam istilahnya global village.

Semoga kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi dan media online kehal-hal yang positif agar tercipta kedamaian diseluruh penduduk bumi dan terhindar dari kekacauan dan keserampangan. Marilah memanfaatkan kemajuan teknologi dengan baik dan positif khususnya media online. 

DAFTAR PUSTAKA

Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, Kencana Prenada Media Group, Jakarta. 2008.
Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komuniksi, Penerbit Salemba. Jakarta. 2009. Edisi 9.
http://metrotvnews.com/metromain/newscat/ekonomi/2011/02/20/43123/Potensi-Iklan-Media-Online-Menjanjikan
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:01:00 PM

Friday, September 6, 2013

ABSTRAK: GAGASAN-GAGASAN OPTIMISTIK TENTANG ARUS INFORMASI INTERNASIONAL

ABSTRAK: GAGASAN-GAGASAN OPTIMISTIK TENTANG ARUS INFORMASI INTERNASIONAL
Penyebaran arus informasi antar negara berlangsung sangat cepat namun tidak merata. Ada negara-negara yang mendominasi (produsen) dan ada negara-negara yang pasif (konsumen). Indonesia yang merupakan negara bekembang yang lebih berposisi sebagai konsumen yang dibanjiri arus informasi. Negara yang mendominasi arus informasi adalah negara-negara maju di belahan bumi bagian barat terutama Amerika Serikat.

Berdasarkan konteks tersebut, maka tujuan tulisan ini adalah untuk menjawab pertanyaan mayor dan minor. Adapun pertanyaan mayornya adalah apa dampak dari arus informasi internasional yang didominasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang? Pertanyaan minornya apakah derasnya arus informasi berdampak positif atau negatif bagi perkembangan negara-negara berkembang? Gagasan-gagasan apa saja yang lahir dari arus informasi internasional? Apa yang ditempuh negara-negara berkembang untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju? 

Dampak dari penyebaran arus informasi internasional yang begitu pesat menyebabkan lahirnya negara-negara baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang sebelumnya merupakan daerah jajahan negara-negara Eropa yang secara serempak, mencari model-model pambangunan yang hendak digunakan sebagai contoh untuk membangun ekonominya. Perkembangan arus informasi internasional juga lebih berdampak positif bagi negara-negara berkembang. Karena untuk mengejar ketertinggalannya, mereka harus banyak belajar dari negara-negara maju tersebut. 

Alvin So dan Suwarno menyebut ada dua perangkat asumsi yang melandasi teori-teori modernisasi yaitu teori evolusi dan fungsionalisme. Teori evolusi adalah perubahan sosial yang merupakan gerakan searah, linear, progresif, dan perlahan-lahan membawa masyarakat berubah dari tahapan primitif ke tahapan yang lebih maju. Dan teori fungsionalisme merupakan proses sistematik yang melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk di dalamnya industrialisasi, urbanisasi, diferensiasi, sekularisasi, dan pasrtisipasi (Armando 2007, 3.26-3.27).

Teori-teori tersebut mengasumsikan bahwa bila sebuah masyarakat memutuskan untuk mentransformasikan diri menjadi sebuah masyarakat modern, mereka tidak bisa bersikap setengah-setengah. Masyarakat tersebut harus merombak dirinya secara total meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamanya yang dianggap sebagai penyebab keterbelakangan. 

Dampak dari arus informasi internasional dapat dilihat dari dua kubu yang bertentangan. Yang pertama adalah kubu yang cenderung memandang secara optimistik arus informasi dari negara maju. Kedua adalah kubu yang memandang secara pesimistik arus informasi tersebut sebagai faktor penting penghambat kemajuan negara-negara berkembang.

Arus informasi dipandang sebagai sesuatu yang positif. Dalam teori-teori modernisasi, arus informasi dari negara-negara maju dianggap sebagai keniscayaan bagi pembangunan negara-negara berkembang dalam rangka mempelajari nilai-nilai yang dibutuhkan dalam proses modernisasi. Tanpa perubahan nilai, diteorikan bahwa pembangunan perangkat keras yang dilakukan di dunia ketiga tak akan ada artinya. 

Kata kunci: arus, informasi, negara-negara, maju, berkembang.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
7:12:00 PM

Thursday, September 5, 2013

BAHASA JURNALISTIK TUTUR RADIO DAN TELEVISI/ CETAK

BAHASA JURNALISTIK TUTUR RADIO DAN TELEVISI/ CETAK
ALI RAHMAN MUTAJALLI
JURNALISTIK IV/ C
NIM: 1110 0511 00077
MATERI: BAHASA JURNALISTIK TUTUR RADIO DAN TELEVISI/ CETAK 

Menggunakan bahasa sehari-hari, gaya bahasa percakapan, atau kalimat tutur

Televisi adalah media audio-visual atau media pandang-dengar, pemirsa memandang gambar dan mendengar narasi. Penyiar atau presenter atau reporter membacakan naskah atau narasi berita untuk pemirsa. Penyiar, presenter, atau reporter seolah tengah bercakap-cakap dengan pemirsa. Kita menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa percakapan atau kalimat tutur dalam berita televisi yang kita buat. Bahwa bahasa jurnalistik televisi harus menggunakan gaya bahasa bertutur adalah juga untuk membedakannya dengan bahasa jurnalistik media cetak yang cenderung formal.

Contoh: 
UNJUK RASA MAHASISWA DI GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN DIWARNAI BENTROK DENGAN APARAT KEAMANAN/// (formal, terutama pada kata “diwarnai”)

MAHASISWA BENTROK DENGAN APARAT/ SAAT BERLANGSUNG UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK DI DEPAN GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN// (bahasa tutur).

Menggunakan kata atau kalimat sederhana, menghindari kata asing kata  klise, istilah teknis, dan eufinisme

Sifat atau karakteristik televisi adalah jangkauannya yang luas. Itu artinya berita televisi menjangkau khalayak dari berbagai tingkat sosial ekonomi. Jika untuk memeroleh informasi dari media cetak, orang harus bisa membaca, untuk memperoleh informasi dari televisi, orang tidak harus pandai membaca. Orang buta huruf pun bisa menonton berita televisi. Bahasa jurnalistik televisi harus bisa dipahami  oleh rata-rata penonton televisi. Bahasa yang dapat dipahami oleh rata-rata penonton televisi adalah bahasa yang sederhana, yang menghindari penggunaan kata-kata asing atau istilah teknis yang belum umum. Jika terpaksa menggunakan kata-kata asing atau istilah teknis yang spesifik, upayakanlah menjelaskan arti atau maknanya.

Contoh: 
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN OKNUM ANGGOTA T-N-I// (bukan bahasa jurnalistik televisi, karena ada kata eufimisme atau pelembutan, yaitu “oknum”)
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN ANGGOTA T-N-I// (bahasa jurnalistik televisi)

Menggunakan kalimat pendek atau ekonomi kata
Kalimat panjang sering kali lebih sulit dimengerti dibandingkan kalimat pendek. Berita televisi yang bersifat sekilas dan satu arah menuntut penyampaian pesan atau berita yang mudah dicerna oleh pemirsa. Kalimat yang panjang boleh jadi menyebabkan pesan atau berita televisi sulit di pahami oleh penonton.

Kekuatan berita televisi terletak pada gambar, kalimat-kalimat yang kita tulis dalam narasi berita televisi bersifat mendukung gambar. Jika kekuatan berita televisi lebih pada gambar, buat apa menggunakan kalimat yang terlampau panjang dalam berita televisi. Televisi mengutamakan kecepatan. Kalimat panjang hanya akan menjadikan alur berita berjalan lambat. Kalimat panjang mengabaikan prinsip televisi sebagai media yang mengutamakan kecepatan. 

Contoh:
PARA MAHASISWA BERENCANA AKAN MELAKUKAN UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK/ BESOK// (terdapat sejumlah kata mubazir).
BESOK/ MAHASISWA BERUNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK// (kalimat pendek dan efektif, tidak ada kata-kata mubazir)

Menghindari kalimat terbalik, subjek dan predikat berdekatan posisinya, jabatan mendahului nama pemangku jabatan

Karakteristik bahasa jurnalistik televisi yang seperti demikian sangat terkait dengan karakteristik media televisi yang bersifat sekilas dan searah. Jika menggunakan kalimat terbalik atau letak subjek dan predikat berjauhan, boleh jadi penonton lupa siapa mengatakan atau melakukan apa. Gaya bahasa terbalik lebih sering digunakan untuk media cetak.

Contoh:
MEMPROTES PENANGKAPAN REKANNYA OLEH POLISI/ SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA// (bukan bahasa jurnalistik televisi, karena anak kalimat mendahului induk kalimat)

SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA MEMROTES PENANGKAPAN REKAN MEREKA OLEH POLISI// (bahasa jurnalistik televisi)

Menggunakan kalimat aktif, jangan menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda
Kalimat aktif lebih memiliki kekuatan dibanding kalimat pasif, kalimat aktif juga lebih mudah dimengerti dibanding kalimat pasif. Karena televisi merupakan media yang mengandalkan kecepatan dan bersifat sekilas, penggunaan kalimat aktif membuat penonton lebih mudah memahami berita televisi.

Contoh: 
LEDAKAN BOM TERJADI DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA// (kalimat pasif, menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda)

BOM MELEDAK DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA// (kalimat aktif, menampilkan kata kerja yang kuat, kata “meledak”)
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
2:51:00 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :
Click Here!

Entri Populer

  • Langkah Pertama Bisnis Online: Membuat Akun Payoneer
    Alhamdulillah, berkah Ramadan, setelah memabaca e-book premium dari mas Dian  Umbara, saya mantap untuk mengikuti jejaknya. Beliau menjadi ...
  • Bebek Kaleo, Bebek Paling Lembut di Dunia
    Pernah makan bebek nggak? Kalian harus coba masakan bebek yang satu ini, Bebek Kaleo. Saat jalan-jalan ke kota Bandung, tidak lengk...
  • Cari Kuliner Nusantara? di Cipika Aja!
    Beberapa tahun terakhir banyak media yang memberitakan tentang penipuan-penipuan saat berbelanja online. Awalnya ngeri juga dengar berita-...

Blog Archive

  • ►  2017 ( 1 )
    • September 2017 ( 1 )
  • ►  2016 ( 2 )
    • June 2016 ( 2 )
  • ►  2015 ( 18 )
    • September 2015 ( 4 )
    • August 2015 ( 8 )
    • May 2015 ( 1 )
    • April 2015 ( 2 )
    • March 2015 ( 1 )
    • February 2015 ( 1 )
    • January 2015 ( 1 )
  • ►  2014 ( 46 )
    • December 2014 ( 3 )
    • November 2014 ( 5 )
    • October 2014 ( 1 )
    • September 2014 ( 7 )
    • August 2014 ( 4 )
    • July 2014 ( 5 )
    • June 2014 ( 11 )
    • May 2014 ( 6 )
    • April 2014 ( 1 )
    • March 2014 ( 1 )
    • February 2014 ( 1 )
    • January 2014 ( 1 )
  • ▼  2013 ( 22 )
    • December 2013 ( 1 )
    • November 2013 ( 1 )
    • October 2013 ( 2 )
    • September 2013 ( 3 )
    • August 2013 ( 2 )
    • July 2013 ( 2 )
    • June 2013 ( 1 )
    • May 2013 ( 2 )
    • April 2013 ( 2 )
    • March 2013 ( 2 )
    • February 2013 ( 3 )
    • January 2013 ( 1 )
  • ►  2012 ( 26 )
    • December 2012 ( 2 )
    • November 2012 ( 1 )
    • October 2012 ( 1 )
    • September 2012 ( 3 )
    • August 2012 ( 2 )
    • July 2012 ( 2 )
    • June 2012 ( 2 )
    • May 2012 ( 2 )
    • April 2012 ( 6 )
    • March 2012 ( 3 )
    • February 2012 ( 1 )
    • January 2012 ( 1 )
  • ►  2011 ( 29 )
    • December 2011 ( 1 )
    • November 2011 ( 1 )
    • October 2011 ( 4 )
    • September 2011 ( 4 )
    • August 2011 ( 4 )
    • July 2011 ( 3 )
    • June 2011 ( 2 )
    • May 2011 ( 3 )
    • April 2011 ( 1 )
    • March 2011 ( 3 )
    • February 2011 ( 1 )
    • January 2011 ( 2 )
AR Mutajalli. Powered by Blogger.

About Me

erig
View my complete profile

Blogroll

ASEAN Blogger
My Community :
Copyright 2016 AR Mutajalli - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates