AR Mutajalli

Buktikan Pada Dunia Bahwa Kita Pernah Ada Dengan Karya Dan Tulisan

  • Home
  • About
  • Vlog
  • Hobi
  • Jurnalistik
  • Galeri
Home » Archive for June 2012

Friday, June 22, 2012

Mengembalikan Jati Diri Lewat Festival Ulang Tahun

Mengembalikan Jati Diri Lewat Festival Ulang Tahun
Perayaan ulang tahun yang diselenggrakan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi tahun ini tidak semeriah tahun sebelumnya, entah apa yang membuat demikian. Sikap apatisme yang tertanam disetiap mahasiswa seakan membuat acuh untuk turut serta berpartisipasi dalam acara tersebut. Padahal tidak sedikit rangkaian acara yang jika semua mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi terlibat bisa membuat acara ini lebih megah meriah.

Pihak birokrasi fakultas sendiri seakan tidak terlalu mendukung acara ini dengan berbagai kesibukan masing-masing. Presiden BEMF Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi juga bertanggung jawab atas tidak timbulnya kesadaran diantara mahasiswa untuk turut berpartisipasi memeriahkan acara ulang tahun ini. Entah karena jabatannya yang baru seumur jagung sehingga belum memiliki kesiapan untuk menyelenggarakan perayaan hari sakral ini.

Beda halnya dengan kepemimpinan Presiden sebelumnya karena menjabat dua periode, sehingga menjadi nilai plus tersendiri dalam menyelenggarakan festival memperingati hari lahir Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Tahun ini malah kalah meriah dengan fakultas-fakultas lain. Terjadi ketimpangan di birokrasi fakultas, entah yang mana yang harus diperbaiki. Atau ketidaksiapan Presiden yang baru menjabat seakan tidak memperlihatkan tajinya.

Perayaan festival dalam memperingati hari lahir Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi sebenarnya hanya sebagai simbol, ada nilai yang tersembunyi di balik festival itu. Yaitu nilai dan visi-misi dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi itu sendiri yang harus diupgrade kedalam mindset setiap mahasiswa UIN Jakarta secara umum dan mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada khususnya. 

Jika melihat realita sekarang, mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi seakan kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa yang mengajak orang untuk melakukan kebaikan. Fakultas lain lebih cocok menyandang gelar tersebut, seperti Fakultas Tarbiah yang selalu rapi dalam berpakaian yang merupakan salah satu simbol mahasiswa muslim yang mengajak kepada kebaikan.

Itulah seharusnya yang perlu disadari oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, dengan mengingat dan memahami kembali nilai-nilai yang harus diemban dan diterapkan dalam setiap pribadi mahasiswa agar kembali ke jati diri yang sebenarnya. 

Jika kita perhatikan, dari sekian banyak fakultas di UIN Jakarta, hanya Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang melegalkan area merokok di lobi fakultasnya. Sementara di fakultas lain tidak ada. Ini mencerminkan bahwa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi sudah kehilangan jati dirinya. 
Peraturan yang tertempel di dinding di tiap lantai gedung Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi hanya seakan formalitas belaka yang tidak memiliki kekuatan untuk melarang mahasiswa untuk melakukan/melanggar kode etik mahasiswa. Ini hanya sebagian kecil potret kehidupan mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang sudah kehilangan jati diri. Semoga dalam perayaan festival ulang tahun Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang walaupun tidak begitu meriah seperti tahun-tahun sebelumnya, bukan itu yang terpenting. 

Yang terpenting adalah bagaimana setiap mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi bisa menanamkan kembali nilai-nilai dakwah kedalam dirinya dan menjadi mahasiswa yang bernilai dimasyarakat. Karena mahasiswa bukan lagi ajang pencarian jati diri, melainkan ajang untuk menemukan dan mengaplikasikan jati diri yang dicari selama ini.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:12:00 PM

Saturday, June 2, 2012

MAKALAH: PRODUKSI DAN ARAHAN ACARA TELEVISI

MAKALAH: PRODUKSI DAN ARAHAN ACARA TELEVISI
Jenis dan Tugas Produser, Tugas Pengarah Acara dan Proses Penyajian Acara

PENDAHULUAN

Didalam melaksanakan tugasnya seorang produser akan selalu berusaha mengembangkan program siarannya, serta akan mengawasi segala bentuk produksi sejak dari pre production meeting sampai dengan editing video tape dan sebagai seorang yang mempunyai pertanggungjawaban penuh untuk setiap unsur, baik unsur teknik dan perekayasaan, yang semuanya dituangkan kedalam bentuk produksi.

Salah satu alasan mengapa seorang produser mempunyai wewenang dan pertanggungjawaban yang penuh, semata-mata hanya karena alasan Business, sebab bagaimanapun Televisi memerlukan suatu sumber yang terus menerus atau team bagi bahan acaranya dan banyak orang yang terlibat kedalam produksi acara, dan hampir setiap anggota team tadi ikut kedalam kegiatan apabila mereka mempunyai bakat yang diperlukan, kemudian meninggalkan kegiatannya apabila andilnya telah selesai. 

Setelah itu hanya seorang produser dan kemungkinan masih ada juga beberapa anggota pelaksana masih mendampinginya sampai selesainya penyiaran dari acara yang telah dikerjakan tadi. Karena itu seorang produser harus mengetahui berbagai pengetahuan yang erat dengan ruang lingkup masalah produksi, baik tentang masalah kamera, tata cahaya teknik editing dan Ia harus pula mempunyai pengetahuan tentang berbagai aspek produksi sehingga dapat membuat keputusan yang setepat-tepatnya, disamping itu sebagai seorang produser harus pula mengetahui kemampuan serta keterbatasan setiap unsur produksi dan mengetahui pula tentang anggota setiap team akan kemampuannya dan mampu menilai andil apa yang telah diberikan dalam upayanya mengembangkan hasil karya produksinya.

Hal yang tidak boleh diabaikan sebagai seorang produser yaitu harus mempunyai daya reka dan daya cipta yang tinggi, sehingga tidak berlebihan kiranya kalau sebagai seorang produser harus mempunyai jiwa  showmanship.

PEMBAHASAN

Untuk memberikan gambaran tentang tugas dan tanggungjawab produser dan pengarah acara, berikut penjelasannya:

PRODUSER

Produser adalah seorang yang bertanggungjawab terhadap perencanaan suatu acara siaran, seperti telah kita ketahui bahwa sebelum merencanakan suatu acara, timbul suatu ide dan ide ini dapat langsung dari produser yang bersangkutan atau dari orang lain, selanjutnya ide ini dituangkan menjadi satu naskah setelah sebelumnya dikumpulkan data-data yang diperlukan, penulis naskah melaksanakan tugasnya sesuai dengan format yang telah direncanakan.

Sebagai seorang produser harus mempunyai kepekaan dalam hubungannya dengan kepentingan khalayak penonton sehingga setiap ide yang diproduksi kepentingan para penonton sudah terwakilkannya. Apakah materi acara sudah direncanakan secara baik dan sesuai dengan keinginannya, maka langkah berikutnya adalah:

(1) Merencanakan susunan artis bersama Pengarah Acara
(2) Merncanakan kegiatan
(3) Merncanakan anggaran produksi yang sesuai dengan rencana kegiatan
(4) Membentuk Unit pelaksana kerja produksi, PD, FD, Asisten PD, Art Director, Unit Manager
(5) Merencanakan peralatan yang akan dipergunakan dalam hal ini produser berkonsultasi dengan Technical Director (TD)
(6) Membagi scenario kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan produksi

PENGARAH ACARA

Pengarah acara adalah orang yang bertugas menginterpretasikan naskah seorang produser, menjadi suatu bentuk dan susunan gambar dan suara, dalam menginterpretasikan harus selalu mengingat akan kepentingan penontonnya, dengan demikian pola pemikirannya harus sejalan dengan produser, hal demikian dimaksudkan agar hasil karyanya menjadi tontonan yang benar-benar dapat dinikmati dan diminati dan terakhir tidak kalah pentingnya agar dapat menjadi tuntunan baginya.

Dalam melaksnakan tugasnya Pengarah acara harus selalu mengembangkan daya kreativitasnya, untuk dapat dituangkan dalam bentuk rencana kerjanya, di samping itu harus mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain, dalam usahanya menuju keberhasilan tugasnya.

Pengarah acara adalah seorang yang berpengalaman dan merupakan spesialis dalam tugasnya dan selalu mempertanggungjawabkan hasil karyanya dari segi artistic maupun dari segi produksinya kepada seorang produser. Di dalam stasiun penyiaran yang kecil, biasanya tugas seorang produser dirangkap oleh pengarah acara, hal ini ditempuh semata-mata hanya masalah efesiensi saja. Di dalam melaksanakan tugasnya ia bertindak sebagai pimpinan dan panutan dari seluruh kerabat kerjanya, karena itu harus selalu bertindak secara konseptual.

PROSES PENYAJIAN ACARA
Dalam proses penyajian acara, pengarah acara harus sudah merekayasa susunan gambar yang akan dikehendaki. Sebelumnya harus mulai memikirkan susunan gambar yang paling mudah, meskipun satu dengan yang lainnya belum tentu ada hubungnnya, baru kemudian disusun setiap segmen dengan rangkaian gambar yang dibayangkan yang akan disajikan. Dalam hubungannya dengan membayangkan gambar, pada umumnya disebut dengan visualization, sedang dalam hal merangkai gambar disebut dengan picturization.

1. Visualization
Yang dimaksud dengan visualiazion adalah pengungkapan ide atau gagasan yang telah dituangkan dalam rangkaian kata-kata menjadi bentuk gambar. Atau dengan kata lain merubah bahan yang bersifat auditif menjadi bahan yang bersifat visual. Sebagai ontoh misalnya dalam program siaran yang bersifat show, maksud utama dari show ini adalah menunjukkan masalah-maslah pribadi, obyek, action serta reaction sejelas mungkin dan cara menunjukkan dengan memanfaatkan kamera yang kita pergunakan. 

Dengan demikian kamera dapat kita pandang sebagai reporter, sehingga penggunaan kamera tadi harus sejeli mungkin agar mampu menunjukkan hal-hal yang bersifat khusus misalnya, yang mengandung nilai-nilai dramatik, misalnya seorang gadis yang sedang berlari kemudian kita mengambil CU sebuah sapu tangan milik gadis tadi yang tercecer di jalan. Demikian pula kita mengambil gambar dengan ukuran gambar CU pada wajah seseorang. Karena masalah visualization ini tidak terlepas dengan cara teknik pengambilan gambar, ada beberapa hal yang perlu diketahui serta diperhatikan berkenaan dengan pengambilan gambar yang baik, dalam arti gambar memenuhi persyaratan artistik serta memenuhi kaidah pertelevisian.

Komposisi Gambar  
Sebenarnya masalah komposisi gambar tidak dapat dipelajari secara khusus, sebab komposisi merupakan sesuatu yang benar-benar enak ditonton, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Karena itu semakin sering kita mengamati obyek-obyek yang erat hubungannya dengan masalah komposisi gambar, seperti menonton film, pameran lukisan, pameran fotgrafi, majalah-majalah bergambar, niscaya kita akan terbawa untuk mendalami masalah komposisi tadi dan kemudian kita akan tumbuh cita rasa kita tentang masalah ini, sehingga akhirnya kita mulai mampu mengevaluasi obyek-obyek yang kita tonton dan akhirnya kita mengetahui bagaimana komposisi yang baik.

Shot-shot dasar yang sering digunakan dan erat kaitannya dengan masalah komposisi ini dan yang masih mungkindipedomani adalah:

(1) Layar televisi sangat terbatas, karena itu dapat memanfaatkan keterbatasan layar tadi, dengan cara menunjukkan suatu yang jelas dan sering melakukan pergantian siaran dan sangat membantu.
(2) Layar televisi konvensional mempunyai aspek ratio 34, bila ingin menunjukkan obyek secara jelas harus selalu brpedoman pada aspek atio.
(3) Gambar pada layar televisi hanya dua dimensi, karena itu hanya dengan kreatifitas gambar yang dihasilkan mempunyai kesn tiga dimensi sehingga lebih hidup. Mislnya saj dengan memanfaatkan efek lampu, penggunaan forground, midle ground, back ground akan sangat membantu.
(4) Gambar yang dihasilkan kamera akan berkurang 10% setelah diterima pada pesawat penerima, karena itu harus hati-hati di dalam penempatan gambar di dalam bingkai agar gambar yang bak tak terpotong.

Teknik Pembingkaian

Beberapa teknik pembingkaian (penempatan dalam bingkai layar) perlu diperhatikan sebagai berikut;
(1). Keseimbangan 
Yang dimaksud keseimbangan disini adalah obyek dalam bingkai gambar nampak berimbang posisinya, dengan perimbangan ratio layar 2/5 samapi dengan 3/5 atau 1/3 sampai 2/3.
(2). Simetri 
Bila menempatkan obyk tepat di tengah-tengah layar dan simetris mungkin, hasil komposisi gambar tidak begitu menarik, karena itu diusahakan dalam menempatkan obyek tunggal asimetri dan hasilnya akan lebih menarik.
(3). Equilbrium 
Setiap gambar pasti mempunyai equilbrium (keseimbangan) akibatnya kmposisi gambar menjadi stabil, netral dan tidak labil. Tetapi sering muncul keinginan untuk merubah equilbrium dari sebuah gambar dengan maksud untuk mendapatkan suatu efek dramatis dengan menggunakan canted shot.

2. Picturization
Yang dimaksud dengan picturization adalah teknik menghubungkan gambar satu dengan yang lainnya sehingga menjadi satu seri gambr yang menarik. Karena hal tersebut merupakan suatu kunci keberhasilan dari rangkaian gambar distiap acara televisi.

Untuk mendinamisasikan gambar pada layar, maka perlu adanya gerakan baik oleh gerakan kameranya sendiri, artisnya sendiri atau bahkan gerakan gabungan antara artis dan kameranya.
Pada dasarnya ada tiga macamgerakan pada gambar di televisi;

1. Kamera tidak bergerak tetapi artisnya bergerak
Dapat diberikan contoh misalnya dari tata dekorasi diatur, sebuah telepon berada di sebelah kiri sbagai foreground dan pintu berada di sebelah kanan sebagai bacground.

Telepon berdering dan seseorang memaasuki ruangan melalui pintu tadi, orang tersebut dalam perjalanannya telpon menuju kamera, kemudian mengangkat telpon. Dalam proses ini kamera sama sekali tidak bergerak, tetapi mampu menghasilkan gambaryang menunjukkan gambar oang menuju ke telepon kemudian mengangkatnya.

Bila kita amati benar dalam shot tadi sudah dapat depth dan interest dari perubahan ukuran gambarnya, yakni dari Long shot ke Medium shot. Proses gerakan yang demikian ini disebut PRIMARY MOVEMENT.

2. Kamera dan aetisnya kedua-duanya tidak bergerak
Situasi masih seperti contoh di atas. Shot dimulai saat orang memasuki pintu dan kamera panning mengikuti orang yang berjalan menuju ke telepon. Proses gerakan ini disebut SCONDARY MOVEMENT yang merupakan gerakan dari kamera.

3. Kamera yang bergerak dan artis yang ditempat.
Gerakan ini disebut TERTIARY MOVEMENT, di sini mnunjukkan yang aktif adalah kameranya, sedangkan artisnya sendiri tetap berada di tempat. Jadi harus memanfaatkan segala kemungkinan gerakan kamera. Contohny penyanyi di panggung dengan segala actingnya, kamera melakukan gerakan sejak panning, tracking, Arc dengang maksud untuk menunjukkan situasi panggung dengan segala kegiatan dari musik pengiring.

Editing

Masalah kontinuitas gambar sering diasosiasikan dengan mencocokkan apa yang dipakai oleh artis pada shot satu dengan shot lainnya. Memang masalah sekecil ini merupakan aspek yang sangat penting dan sangat peka dalam masalah kontinuitas gambar. Sebab gambar-gambar di layar dan yang kita nikmati mrupakan hasil dari pemilihan gambar yang dihasilkan dari beberapa kamera, di mana selanjutnya disusun dalam suatu scenes, sehingga mampu menunjukkan suatu koninuitas gambar yang baik dalam arti wajar dan logis sehingga dapat dinikmati oleh khalayak penontonnya.

Penyusunan kontinuitas gambar ini merupakan suatu kreasi seni tersendiri,, karena itu ada ungkapan dikatakan bahwa kalau sudah menguasai kontinuitas gambar maka akan merupakan modal untuk dapat menjadi [engarah acara yang baik. Kalau ungkapan ini benar adanya berarti masalah kontinuitas gambar meropakan hal yang sangat penting untuk didalami masalahnya.

Sebagai contoh dapat diketengahkan pada permainan sepak bola, bila anda melakukan cut dari kamera satu ke kamera lainnya, harus anda pikirkan masalah kontinuitas gambarnya. Seorang sedang berlari ke kanan, kemudian anda lakukan cutting ke kamera lainnya dan gambar yang masuk masih orang yang sama hanya larinya tidak ke kanan justru mengarah ke kiri. Tentu masalah ini mengejutkan penonton dan menimbulkan pertanyaan, apa maunya penonton ini, bukankah gawang lawan di sebelah kanan, mengapa pemain ini mondar mandir ke kiri ke kanan saja. Padahal semuanya tadi hanyalah semata-mata kesalahan anda dalam penyusunan gambar sehingga kontinuitas gambar menjadi kacau.

Dari contoh di atas tentu saja bisa diambil langkah setelah anda mengambil gambar pemain yang bergerak ke kanan tadi, anda bisa melakukan cutting dengan CU kaki misalnya, dengan gerakan tetap ke kanan. Untuk melakukan penyusunan gambar yang baik dapat dilaksanakan dengan EDITING gambar. 

Dalam memproduksi siaran acara televisi sebenarnya kita telah melakukan editing baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam arti kalau acara yang kita produksi langsung siap disiarkan,, editing dilakukan saat itu juga, tetapi kalau acara yang kita produksi belum siap siar, maka editing memerlukan proses tersendiri. Dengan demikian kalau kita tinjau dari pelaksanaan dan bahan bakunyq, mqkq editing dapat dibedakan menjadi;

a. editing yang dilaksanakan pada saat itu juga, di mana pelaksanaannya melalui vision mixer
b. Editing yang dilaksanakan pada saat Post production dan pelaksanaannya menggunakan meja editing elektronik.
c. Editing yang bahan bakunya berupa film.
Meskipun ketiga proses editing seperti disebutkan di atas pelaksanaannya berbeda, tetapi dari segi maksud dan tujuannya sama, yaitu untuk menghasilkan nilai kontinuitas gambar dan efek yang ditimbulkan.

Karena secara artistik acara televisi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tentang keberhasilannya dalam melakukan editing, sehingga;
a. sebuah acara dapat diproduksi dengan hanya menggunakan satu kamera saja, tetapi berkat keterampilan di dalam melaksanakan editing, penonton dapat menyaksikan hasilnya sebagai suatu suguhan yang mengasyikan.
b. Melalui editing peristiwa, waktu dan tempat yang berbeda dapat disuguhkan hanya dengan satu bagian saja.
c. Melalui editing dapat memperjeas informasi.
d. Melalui editing dapat diciptakan hubungan yang mungkin maupun yang tidak mungkin ada.
e. Editing berarti dapat melakukan pemilihan gambar yang diinginkan dari hasil penyusunannya akan berpengauh pada reaksi dn interpretasi khalayak penonton.

Dalam proses editing dapat dilaksanakan dengan berbagai tknik, antara lain;

1. Live on tape
Acara yang diprodusi direkam terus menerus, seperti halnya kalau acara yang diproduksi disiarkan secara langsung. Sedangkan pelaksanaan editingnya dilaksanakan pada saat itu juga dengan menggunakan vision mixer dan hasilnya langsung sebagai bahan acara yang siap untuk disiarkan.

2. Retakes
Retake dapat diartikan sebagai mengulang pengambilan gambar yang telah dilakukan tetapi dapat juga  terjadi bukan hanya karena ada kesalahan dalam pengambilan gambar saj, dapat pula terjadi karena kesalahan-kesalahan lainnya, misalnya keterlambatan masuknya telepon, ilustrasi/ tune atau masalah lainnya.

3. Rekaman bagian demi bagian
Acara ini direkam sequence demi sequence sesuai dengan breakdown script yang telah dibuat dan dalam pelaksanaan rekaman juga digunakan retaketeapi dapat pula pengambilan gambar dapat dilakukan ddengan berbagai macam angle, kemudian pada saat editing dipilih gambar yang dinilai baik.

4. Single source recording
Yang dimaksud dengan single source recording adalah gambar yang dihasilkan dari beberapa kamera, di mana setiap kamera merekam sendiri-sendiri dari acaranya. Dari hasil rekaman gambar ini penyelesaiannya dilakukannya dilakukan saat post production (vidio tape editing)
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
1:45:00 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :
Click Here!

Entri Populer

  • Langkah Pertama Bisnis Online: Membuat Akun Payoneer
    Alhamdulillah, berkah Ramadan, setelah memabaca e-book premium dari mas Dian  Umbara, saya mantap untuk mengikuti jejaknya. Beliau menjadi ...
  • Bebek Kaleo, Bebek Paling Lembut di Dunia
    Pernah makan bebek nggak? Kalian harus coba masakan bebek yang satu ini, Bebek Kaleo. Saat jalan-jalan ke kota Bandung, tidak lengk...
  • Cari Kuliner Nusantara? di Cipika Aja!
    Beberapa tahun terakhir banyak media yang memberitakan tentang penipuan-penipuan saat berbelanja online. Awalnya ngeri juga dengar berita-...

Blog Archive

  • ►  2017 ( 1 )
    • September 2017 ( 1 )
  • ►  2016 ( 2 )
    • June 2016 ( 2 )
  • ►  2015 ( 18 )
    • September 2015 ( 4 )
    • August 2015 ( 8 )
    • May 2015 ( 1 )
    • April 2015 ( 2 )
    • March 2015 ( 1 )
    • February 2015 ( 1 )
    • January 2015 ( 1 )
  • ►  2014 ( 46 )
    • December 2014 ( 3 )
    • November 2014 ( 5 )
    • October 2014 ( 1 )
    • September 2014 ( 7 )
    • August 2014 ( 4 )
    • July 2014 ( 5 )
    • June 2014 ( 11 )
    • May 2014 ( 6 )
    • April 2014 ( 1 )
    • March 2014 ( 1 )
    • February 2014 ( 1 )
    • January 2014 ( 1 )
  • ►  2013 ( 22 )
    • December 2013 ( 1 )
    • November 2013 ( 1 )
    • October 2013 ( 2 )
    • September 2013 ( 3 )
    • August 2013 ( 2 )
    • July 2013 ( 2 )
    • June 2013 ( 1 )
    • May 2013 ( 2 )
    • April 2013 ( 2 )
    • March 2013 ( 2 )
    • February 2013 ( 3 )
    • January 2013 ( 1 )
  • ▼  2012 ( 26 )
    • December 2012 ( 2 )
    • November 2012 ( 1 )
    • October 2012 ( 1 )
    • September 2012 ( 3 )
    • August 2012 ( 2 )
    • July 2012 ( 2 )
    • June 2012 ( 2 )
    • May 2012 ( 2 )
    • April 2012 ( 6 )
    • March 2012 ( 3 )
    • February 2012 ( 1 )
    • January 2012 ( 1 )
  • ►  2011 ( 29 )
    • December 2011 ( 1 )
    • November 2011 ( 1 )
    • October 2011 ( 4 )
    • September 2011 ( 4 )
    • August 2011 ( 4 )
    • July 2011 ( 3 )
    • June 2011 ( 2 )
    • May 2011 ( 3 )
    • April 2011 ( 1 )
    • March 2011 ( 3 )
    • February 2011 ( 1 )
    • January 2011 ( 2 )
AR Mutajalli. Powered by Blogger.

About Me

erig
View my complete profile

Blogroll

ASEAN Blogger
My Community :
Copyright 2016 AR Mutajalli - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates