AR Mutajalli

Buktikan Pada Dunia Bahwa Kita Pernah Ada Dengan Karya Dan Tulisan

  • Home
  • About
  • Vlog
  • Hobi
  • Jurnalistik
  • Galeri
Home » Archive for May 2011

Friday, May 13, 2011

AYAT AL-QURAN YANG PERTAMA DAN TERAKHIR DITURUNKAN

AYAT AL-QURAN YANG PERTAMA DAN TERAKHIR DITURUNKAN
ULUMUL QUR’AN
TEMA: AYAT AL-QURAN YANG PERTAMA DAN TERAKHIR DITURUNKAN
NAMA: ALI RAHMAN MUTAJALLI
NIM: 1110 0511 00077
JURUSAN: JURNALISTIK I/C
TANGGAL: 14 OKT 2010

PEMBAHASAN

Turunnya Al-qur’an diawali dengan surah Al-Alaq di Makkah. Diriwayatkan dari Abu Abdillah a.s., bahwa beliau berkata “ Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw . adalah : Bismillahir-Rahmanirrahim. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menjadikan” (QS.Al-Alaq : 1)

Ayat yang terakhir diturunkan adalah: pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. Al-Maidah : 3).

Sedangkan surah yang terakhir diturunkan adalah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (QS. An-Nashr: 1) 

Dikatakan pula bahwa ayat yang terakhir diturunkan adalah: (QS. Al-Bakarah: 281). Berkata Al Mawardi : ini adalah ayat yang turun pada hari Nahar pada Haji Wada’ di Mina. Dikatakan juga bahwa ayat yang terakhir diturunkan adalah ayat tentang pengharaman riba.

Banyaknya perbedaan pendapat tentang ayat yang terakhir diturunkan disebabkan karna adanya dominasi dugaan para perawi dan ijtihad mereka. Masing-masing meriwayatkan ayat yang terakhir didengarnya dari Rasulullah saw. Sebelum beliau jatuh sakit, kemudian si perawi berpisah berpsah dari beliau.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
11:34:00 PM

Thursday, May 5, 2011

Makalah: Agama dan Organisasi Keagamaan

Makalah: Agama dan Organisasi Keagamaan
PENDAHULUAN

Sebagai ilmu yang menggeluti kehidupan dan kebudayaan manusia, antropologi agama tidak dapat dilepaskan dari uraian tentang kehidupan manusia dan agama, dari hubungan antara keduanya. Hubungan antara dua variabel ini ada yang menyangkut masalah-masalah besar, menengah dan “kecil”. Meneliti hubungan masalah besar dalam kehidupan seperti hubungan agama dan kemajuan, pembangunan atau modernisasi, agama dan kebahagiaan hidup dinamakan dengan grand theories. 

Di bawah itu, dapat pula diteliti masalah yang lebih khusus, seperti hubungan agama dengan politik, ilmu pengetahuan, seni, organisasi, yang dapat dinamakan dengan middle theories. Kemudian perhatian antropologi dapat pula ditujukan kepada fenomena yang lebih khusus atau kecil, dari middle theories dalam masyarakat, seperti fenomena meneliti musik nasyid di kampus suatu universitas umum, kehidupan spritual para selebritis suatu kota metropolitan. Hasil penelitian atau studi tentang hal yang lebih khusus ini yang biasa dinamakan studi kasus, dapat dinamakan dengan micro theories.

Di antara ahli antropologi ada yang tidak setuju, antropologi ikut-ikutan mengembangkan pengetahuan teoritis seperti ilmu alam, sosiologi dan ilmu ekonomi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Greetz. Namun, sebagai ilmu yang mulanya dikembangkan oleh kebudayaan modern Barat, penilaian terhadap hubungan agama dan kehidupan dapat dibaca, baik secara tersurat, atau minimal secara tersirat dalam tulisan mereka.

AGAMA

Pengertian Agama

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepadaTuhan.

Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.

Teori Tentang Agama

1. Teori Tentang Asal-Usul Agama
Berikut ini dikemukakan berbagai teori antropologi tentang asal-usul agama. Koentjaraningrat  hanya mengemukakan teori tentang asal-usul agama, padahal teori tentang agama yang lebih penting diungkapkan adalah pengaruhnya terhadap komponen budaya. Ia membagi teori antropologi tentang agama kepada tiga macam. Pertama, teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada keyakinan keagamaan. Kedua, teori yang berorientasi kepada sikap manusia. Ketiga, teori yang berorientasi kepada upacara religi.

a. Teori berorientasi kepada keyakinan keagamaan
R.R. Marret (1886-1940) berpendapat bahwa kepercayaan beragama berasal dari kepercayaan akan adanya kekuatan gaib luar biasa yang menjadi penyebab dari gejala-gejala yang tidak dapat dilakukan manusia biasa. Kekuatan gaib yang berupa mana yang dipercayai orang  Melanesia dapat juga dimiliki manusia. Orang yang memiliki mana mampu mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan manusia biasa. Orang yang memiliki mana  berkuasa dan mampu memimpin orang lain. Emosi dan getaran jiwa manusia purba kagum kepada hal-hal yang luar biasa dan sumber terjadinnya kejadian luar biasa itu. Manusia zaman kuno yakin kepada adanya zat halus memberi kekuatan hidup dan gerak kepada yang memilikinya. 

b. Teori yang berorientasi kepada sikap manusia terhadap yang gaib
Rudolf Otto menekankan sikap kagum terpesona dari penganut agama terhadap zat yang gaib (mysterium), maha dahsyat, maha baik, maha adil, maha bijaksana (tremendum) dan keramat (sacer). Karena itu, manusia tertarik untuk bersatu dengan zat tersebut. Teori Otto tampak cocok dengan agama besar dunia, dan tidak cocok dengan agama primitif. Otto berpendapat bahwa kepercayaan masyarakat primitif belumlah agama, hanya tahap pendahuluan kepada agama.  

c. Teori yang berorientasi kepada upacara religi
Ahli antorpologi Prancis, R. Hetz, mengkhususkan perhatian kepada upacara kematian. Hertz berpandangan bahwa tingkah laku manusia dalam masyarakat ditentukan oleh gagasan orang banyak. Karena itu, ia berpendapat bahwa upacara kematian selalu dilakukan manusia dalam rangka adat-istiadat dan struktur sosial. Analisis upacara kematian menurutnya harus bebas dari perasaan individu pelakunya. Persoalan hidup dan mati dipandang banyak suku bangsa di dunia sebagai proses peralihan dari suatu kedudukan sosial tertentu di dunia ini kepada kedudukan sosial dalam dunia makhluk halus. 

Dengan demikian upacara kematian tidak lain dari jenis inisiasi. Hertz juga menjelaskan ada persamaan antara upacara kematian dengan upacara kelahiran dan perkawinan, yaitu sama-sama upacara peralihan. Pada upacara kematian seseorang beralih dari alam hidup ke alam gaib. Dalam upacara kelahiran seseorang beralih dari alam gaib ke alam hidup. Upacara perkawinan adalah peralihan dari masa lajang ke masa berumah tangga. Kesamaan peralihan ini dinamakan dengan rites de passage. Dalam upacara peralihan itu ada bagian perpisahaan, ada bagian peralihan dan ada bagian integrasi kembali. 

2. Teori Dari Berbagai Tinjauan Ilmu
Anne Marie de Wall Malefijt mengungkapkan teori-teori tentang kehidupan beragama dari berbagai sudut tinjauan dan teori, seperti teori linguistik, rasionalistik, teori migrasi dan difusi, teori psikologis, teori sosiologis, dan teori fenomenologis. 

a. Teori Lingusitik
Kajian terhadap agama secara ilmiah dimulai sesudah kajian terhadap bahasa mulai berkembang. Keduanya punya kesamaan sebagai gejala universal dari kehidupan manusia. Adalah dua bersaudara Jacob Crimm dan Wilhem Grimm yang memulai penggabungan kajian mitos dengan bahasa. Dia mengumpulkan sebagian besar lagenda, cerita rakyat, khurafat-khurafat, dan pepatah seantero Eropa dan terperanjat karena menyaksikan adanya kesamaan antara semuanya. Demikian juga dsaksikan dalam kitab Rig-Veda yang diperkirakan ditulis dua abad sebelum masehi. Keagamaan itu adalah cerita rakyat modern yang semmula adalah mitos masa lalu yang telah ditambah, dikurangi, atau dikorup. Karena itu, cerita rakyat Indo-Eropa juga berasal dari sumber kuno yang sama.  

b. Teori Rasionalistik
Teori ini diterapkan pada kajian agama mulai abad ke-19. Secara umum yang dimaksudkan dengan teori rasionalistik adalah keyakinan ilmuan bahwa manusia prasejarah menjelaskan kepercayaan kepercayaan mereka hampir dekat dengan cara ilmiah, tetapi mereka sampai kepada kesimpulan yang salah karena kekurangan pengtahuan dan pengalaman mereka. Kecenderungan teori ini tampak karena dipengaruhi oleh cara berpikir orang Barat, khususnya para ahli antropologinya, dalam memahami sebagian besar masalah dalam kehidupan mereka. Ketika melihat ada budaya dan kepercayaan suku bangsa lain atau zaman lain yang sangat berbeda dengan budaya mereka, mereka memandang cara suku bangsa lain mendapatkannya hampir sama dengan cara berpikir ilmiah yang mereka lakukan, cuma kesimpulan akhir yang berbeda dengan mereka.

c. Teori Sosiologis
Teori ini menujukan perhatian kepada pertanyaan tentang apa fungsi agama bagi kehidupan manusia. W. Robert Smith menulis unsur-unsur agama kuno (pagan) dalam agama-agama suku bangsa Semit, termasuk dalam agama Yahudi. Agama bangsa Semit menurutnya sangat bersifat kesukuan sejalan dengan struktur sosioal mereka. Masing-masing suku punya Tuhannya sendiri-sendiri yang dipercayai sebagai pencipta alam fisik dan nenek moyang mereka. Karena itu Tuhan dan diri mereka sendiri dari satu keturunan. Tuhan pada dasarnya menjelma dalam bentuk suatu species binatang sebagai kepercayaan totem. Hubungan manusia denganTuhan terjadi ketika memakan hewan totem dalam acara ritual. Kemudian Smith berpendapat bahwa teorinya ini juga berlaku pada segenap agama masyarakat yang tidak bisa tulis baca (nonliterate societies). Mereka, menurut Smith, tidak punya dogma, tetapi punya upacara ritual. Teorinya dikritik sebagai yang sangat diragukan karena tidak punya bukti. 

d. Teori Migrasi dan Difusi
Kalau Koentjaraningrat menamakan teori Wilhem Schidt dengan teori teologis, Malefijt menamakannya dengan teori migrasi dan difusi. Fritz Grabner juga sependapat dengan Schmidt bahwa monoteismelah yang mula-mula berkembang dalam kehidupan beragama manusia. Politeisme, animisme, totemisme, magis, fetish, dan lainnya, merupakan perkembangan kemudian. Teorinya didasarkan kepada data yang ditemukannya di kalangan suku Pygmy Afrika yang menurutnya merupakan kebudayaan Afrika yang orisinil. 

e. Teori Psikologis
Sigmund Freud mulanya seorang dokter medis. Ia menyaksikan banyak penyakit fisik dilatarbelakangi oleh gangguan jiwa. Ia juga menulis tentang agama dan agama masyarakat primitif. Gangguan jiwa manusia, menurutnya, disebabkan keinginan hewani manusia yang terkumpul dalam alam bawah sadar manusia (das Ich) banyak yang terhalang untuk direalisasi oleh nilai-nilai ideal yang berada dalam jiwa manusia yang dinamakan dengan superego. Superego berasal dari tekanan hukum, moral, agama, dan budaya. Keinginan hewani manusia demikian mendasar, menurut Freud, sehingga tampil dalam bentuk Oedipus Complex. Dari masih kecil, anak-anak sudah menaruh cemburu kepada orang tuanya yang sejenis kelamin dengan dia karena orang tuanya itu juga mencintai orang tuanya yang berlawanan jenis dengan dia sendiri. Dia juga mencintai orang tuanya yang berlawanan jenis kelamin itu. Oleh karena itu, anak laki-laki menaruh cemburu dari kecil kepada ibunya.

f. Teori Fenomenologis
Fenomen berarti “sebagai yang dimaksud atau diturunkannya sendiri.” Dengan demikian, teori fenomenologis adalah kajian terhadap sesuatu menurut yang dimaksud sendiri oleh yang dikaji. Suatu masyarakat yang menjadi objek penelitian dengan pendekatan fenomenologis berarti berusaha memahami maksud simbol, kepercayaan, atau ritual menurut yang mereka pahami sendiri. Tentu saja pemahaman masing-masing masyarakat terhadap kebudayaan mereka sendiri akan bermacam ragam karena masyarakat dan budaya juga bermacam ragam. Apa yang dimaksud hakikat yang dipelajari menurut pemilik sendiri juga berbeda di antara pendukung pendekatan fenomenologis. 

Dari defenisi, teori dan penjelasan tentang agama yang diungkap di atas terlihat pula ada ahli antropologi yang menunjukkan perhatian kepada asal-usul agama. Asal-usul agama dari Tuhan tentu tidak empirik, tidak dapat dibuktikan. Yang dapat dibuktikan adalah kondisi psikologis manusia yang diliputi ketidaktahuan dan kecemasan menghadapi gejala alam. Karena itu, ada ahli antropologi yang memberikan defenisi agama sebagai pelarian manusia yang lemah memahami kedahsyatan alam semesta, lemah mengendalikan alam, lemah menata kehidupan bersama, atau lemah mendapatkan bahagia dalam kehidupan sehingga mereka menyandarkan kelemahan mereka dengan berpegang kepada yang gaib.  

Walaupun tinjauan dari asal-usul beragama yang digali kondisi psikologis manusia ini mengandung kebenaran, tetapi implikasinya meniadakan agama setelah manusia menjadi kuat dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Ini pandangan modernisme yang menekankan aspek kemajuan fisik. Akan tetapi, pengalaman manusia yang hanya menekankan aspek fisik dan ekonomi menunjukkan mereka terperangkap pula kepada krisis identitas, krisis nilai kehidupan, dan kegersangan spiritual sehingga banyak yang lari ke aliran-aliran pemujaan. Jadi, defenisi dengan tinjauan asal-usul psikologi dari kecenderungan manusia beragama dapat pula dipahami kebenarannya, sehingga untuk tercapainya kebahagiaan, menusia tidak hanya membutuhkan sarana fisik dan material, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang sulit dirumuskan dengan kemampuan akal dan metode ilmiah saja. 

ORGANISASI KEAGAMAAN

Tipe-Tipe Organisasi Keagamaan dan Tipe-Tipe Masyarakat

Semua pengkaji organisasi keagamaan sangat berhutang budi kepada tulisan-tulisan sarjana Jerman,Ernst Troeltsch, penulis karya monumental, Social Teaching of the Christian Churches. Troeltsch membedakan antara dua tipe utama kelompok keagamaan. Yaitu geraja dan sekte (ecclesia). Bagi Troeltsch gereja atau ecclesia adalah suatu tipe organisasi keagamaan yang merupakan ciri khas suatu gerakan keagamaan dalam fase kematangan dan kemampuannya.

Di lain pihak sekte menandai tahap-tahap permulaan yang dinamik dari suatu gerakan. Troeltsch membatasi pengkajiannya pada agama Kristen. Karena keaneka ragaman tipe organisasi yang terdapat di dalamnya, Troeltsch menjadikan Kristen sebagai contoh. Di lain pihak penelitian-penelitian Max Weber terhadap agama Yahudi purba dan agama-agama di India dan Cina menunjukkan bahwa tipologi Troeltsch dapat diaplikasikan secara luas.

Meskipun ecclesia menurut Troeltsch, atau tipe gereja, dan sekte merupakan dua variasi utama kelompok-kelompok keagamaan dan kedua tipe tersebut berguna sekali untuk dianggap sebagai dua kutub yang berlawanan, namun sarjana-sarjana sosiologi menambah dua subtipe lagi. Yaitu aliran keagamaan (denomination) dan pengamalan keagamaan (cult).  
Ecclesia, Sekte, Aliran Keagamaan dan Pengamalan Keagamaan

Ecclesia adalah sebuah gereja yang menekankan keuniversalannya di dalam suatu daerah tertentu, baik nasional maupun internasional. Semua anggota yang dilahirkan di dalam daerah ini dianggap, berdasarkan tempat tinggal mereka sebagai anggota-anggota ecclesia. Pola kekuasaannya pada umumnya formal dan tradisional. Kekuasaan ini berpusat dan mengenal hirarki. 

Oleh karena itu organisasi tersebut terjalur dari atas kebawah dengan menggunakan garis komando. Berbagai macam pemimpin muncul dalam organisasi yang besar dan bervariasi ini. Pemimpin tertingginya adalah pendeta dan bukan nabi. Pendeta adalah pejabat yang kekuasaannya didukung oleh hirarki. Tugas pokoknya yaitu mengurus sarana-sarana sakramental untuk memberikan rahmat bagi para anggota, adalah eksklusif dan sangat penting. 

Ecclesia jauh berbeda dengan sekte, tidak menarik diri dari dunia dan juga tidak memeranginya. Tujuannya adalah menguasai dunia untuk kepentingan organisasi. Oleh karena itu terdapat hubungan saling memberi dan menerima antara pemerintahan ecclesia dengan lembaga-lembaga sekuler dalam masyarakat, termasuk pemerintahan sipil. Karena alasan inilah ecclesia menguasai dunia tetapi ia sendiri juga dikuasai oleh dunia. 

Sebaliknya sekte pada umumnya merupakan kelompok kecil yang eksklusif dan anggota-anggotanya tergabung secara sukarela biasanya orang-orang dewasa. Kekuasaan dijalankan oleh seseorang berdasarkan atas kharisma perorangan dan bukan atas dukungan hirarki. Meskipun demikian disiplin keagamaan dalam sekte tersebut keras dan dilaksanakan bersama dengan saling mengawasi diantara anggota-anggota kelompok tersebut. Sekte-sekte ditandai dengan semangat keagamaan dan etika. 

Kepercayaan-kepercayaan mereka menekankan ajaran-ajaran Injil dari masa-masa paling awal, dan praktek-praktek keagamaan mereka menekankan cara hidup orang Kristen pertama. Kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan sekte tersebut mempertajam perbedaan antara anggota-anggota kelompok sekte yang erat bersatu dengan dunia luar. Memang anggota sekte biasanya bermusuhan dengan anggota semua gereja lain dan seringkali dengan sekte-sekte saingan mereka juga. Oleh karena itu sekte-sekte cenderung radikal dalam penolakan mereka terhadap pemerinatahan sekuler. 

Organisasi Keagamaan dan Gerakan-gerakan Keagamaan

Meskipun tipe-tipe organisasi keagamaan yang beraneka ragam itu mungkin bisa hidup bersama dalam satu masyarakat, namun beberapa tipe lebih sesuai bagi beberapa tipe masyarakat tertentu daripada bagi masyarakat lain. Bukti historik menunjukkan bahwa gerakan keagamaan baru dengan baik sekali dapat menanamkan pengaruh yang kuat pada masyarakat jika gerakan tersebut lahir pada saat peradaban sedang dalam keadaan kacau. 

Gerakan besar keagamaan pra-Kristen muncul selama masa-masa perubahan dan pergolakan cepat yang menggoncang peradaban purba. Adalah suatu fakta yang luar biasa bahwa kira-kira pada kurun waktu yang sama terlihat perkembangan agama Kong Fu Tsu di Cina, filsafat Brahmana dan munculnya agama Budha di India, serta gerakan kenabian di Jedua. Belum lagi munculnya kebudayaan klasik di Yunani. Periode ini adalah masa ketidakpastian yang melanda seluruh dunia yang beradab.  Pada abad ini gerakan-gerakan besar dibidang keagamaan muncul dan pada umumnya karena pengaruh agama. Nilai-nilai yang sejak saat itu telah mengarahkan peradaban terbentuk.

Keruntuhan peradaban Romawi menampilkan tipe masyarakat baru yang sangat mirip dengan tipe masyarakat yang kami golongkan sebagai tipe kedua. Oleh karena itu agama-agama besar dunia tumbuh menjadi dewasa di dalam masyarkat tipe kedua, dan memainkan peranan penting dalam membentuk nilai-nilainya. Di dalam masyarakat agraris yang begitu luas dan tidak adanya nasionalisme serta pemerintahan pusat yang kuat serta kurangnya metode-metode ilmiah dan ekonomi memungkinkan agama memainkan peranan sosial dan politik yang dominan. Lagi pula kurangnya sarana komunikasi dan rendahnya standar kemampuan tulis baca pada seluruh lapisan masyarakat tersebut. Dan kurangnya persaingan dari agama-agama lain juga memacu perkembangan suatu ecclesia atau gereja yang universal. 

Pada saat tipe masyarakat kedua mulai pecah dan kelas-kelas serta kepentingan-kepentingan baru bermunculan menentang tertib lama yang sudah mapan, maka timnullah banyak sekte. Ecclesia yang sudah mapan dalam masyarkat-masyarakat tidak hanya kuat pada organisasinya saja, tetapi juga merupakan pendukung kuat bagi lembaga-lembaga sosial dan politik yang sudah ada. Oleh karena itu oposisi yang ingin berhasil haruslah sungguh-sungguh dan penuh semangat.

Lagi pula oposisi yang meningkat untuk menanamkan kekuasaan hampir tidak dapat dihindari dalam masyarakat setengah urban yang masih belum metropolitan dan belum begitu sekuler dan hal ini dibenarkan sebagai suatu pengembalian kepada apa yang mungkin disebut sebagai gospel christianty. Tipe pembenaran keagamaan ini sesungguhnya digunakan oleh pengikut-pengikut sekte yang berjuang dan tumbuh di Eropa pada abad ke-17 pada saat keresahan umum yang memberikan kepada kelompok-kelompok keagamaan ini kesempatan yang besar sekali untuk menanamkan etika mereka pada masyarakat sekitarnya. 

Memang jenis etika Puritan ini terlepas dari semua peristiwa yang telah terjadi sejak saat itu, belum semuanya hilang dari dalam kehidupan nasional Inggris atau Amerika. Karena keadaan pada abad ke-17 secara berangsur-angsur memberi tempat kepada etik-etik dunia modern dan karenamasyarakat-masyarakat tipe kedua berubah menjadi masyarakat tipe ketiga, maka banyak sekte-sekte terdahulu yang mencapai keberhasilan duniawi oleh karena itu menjadi lebih mapan dan kurang militan. 

DAFTAR PUSTAKA

Agus Bustanuddin. Agama Dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Rajawali Pers. Jakarta, 2006.
Nottingham Elizabeth K. Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 1998.
O’Dea Thomas F. Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal. Cetakan ke-6. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Utara, 1995

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
12:50:00 AM

Wednesday, May 4, 2011

Akhlak Tasawuf

Akhlak Tasawuf
I. PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN MANFAAT MEMPELAJARI ILMU AKHLAK

A. Pengertian Ilmu Akhak
Akhlak berasal dari bahasa Arab إسم مصدر  (bentuk Infinitif) yaitu dari kata أخلق، يخلق، إخلا قا  yang berarti al sajiah (perangai), ath-thabiiyah ( kekuatan, tabiat, watak dasar), al adapt (kebiasaan, kelaziman), al- maruah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).
Menurut Ibnu Miskawa (421H-1030H) akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan permikiran dan pertimbangan.
B. Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak
Ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut baik atau perbuatan yang buruk.
Objek pembahasan ilmu akhlak adalah sesuatu yang berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu yang dilakukan seseorang.
C. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak
Manfaat mempelajari ilmu akhlak adalah untuk memberikan pedoman atau penerangan bagi manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik dengan berusaha melakukannya dan perbuatan yang buruk dengan berusaha untuk menghindarinya.  

II. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA

A. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Ilmu Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji.
Dalam ilmu tasawuf dikenal istilah tasawuf akhlaki, pada taswuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannnya terdiri dari takhkalli yaitu menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan tajalli yaitu terbukanya hijab yang membatasi manusia dengan tuhan, sehingga nur ilahi tampak jelas padanya.
B. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid tampil dalam memberikan landasan terhadap ilmu akhlak, dan ilmu akhlak tampil memberikan penjabaran dan pengamalan dari ilmu tauhid. Ilmu tauhid tanpa akhlak yang mulia tidak akan ada artinya, dan akhlak yang mulia tanpa tauhid tidak akan kokoh. Selain itu memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut. Di sinilah letaknya hubungan ilmu akhlak dan ilmu tauhid.
C. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Ilmu jiwa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara menginterpretasikan perilakunya yang tampak. Untuk mengembangkan ilmu akhlak kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan oleh ilmu jiwa. Ilmu jiwa juga dapat memberi masukan dalam rangka merumuskan tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak. 
D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
Mohd. Athiah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan islam, dan tujuan pendidikan islam adalah terbentuknya seorang hamba yang patuh dan tunduk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya serta memiliki sifat-sifat dan akhlak yang mulia. Pendidikan islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berkhlak.
E. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat
Filsafat membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari pembahasan ini akan diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian akan dapat diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, alam dan makhluk Tuhan lainnya. Manusia perlu melengkapi dirinya dengan berbagai ilmu yang sangat akrab dan berdekatan dengan berbagai permasalahan yang ada di sekitar kehidupan manusia.

III. INDUK AKHLAK ISLAMI

Dalam berbagai literatul tentang ilmu akhlak islami dijumpai uraian tentang akhlak yang secara garis besar dapat dibagi dua yaitu, akhlak yang baik (al-akhlak al-karimah), dan akhlak yang buruk (al-akhlak al-mazmumah). Baerbuat adil, jujur, sabar, pemaaf, dermawan dan amanah  termasuk akhlak yang baik. Sedangkan berbuat zalim, berdusta, pemarah, pendendam, kikir dan curang termasuk ke dalam akhlak yang buruk.
 IV. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK

A. Ilmu Akhlak di Luar Agama Islam
 Akhlak pada bangsa Yunani
Pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak pada bangsa Yunani baru terjadi setelah munculnya Sophisticians yaitu, orang-orang yang bijaksana (500-450 SM) dasar yang digunakan pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia yang lebih bersifat filosofis.
 Akhlak pada agama Nasrani
Menurut agama ini bahwa Tuhan adlah sumber akhlak, bersifat teo-centri (memusat pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin) dan pendorong berbuat kebajikannya cinta dan iman kepada Tuhanberdasarkan petunjuk kitab Taurat. Agama ini menjadikan roh sebagai kekuasaan yang dominan terhadap diri manusia.
 Aklhak pada bangsa Romawi
Ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani.
 Aklak pada bangsa Arab
Bangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli Filsafat yang mengajak pada aliran paham tertentu. Bangsa Arab hanya mempunyai ahli-ahli hikmah dan ahli-ahli syair. Di dalam kata-kata hikmah dan syair tersebut dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi keburukan.
B. Akhlak pada Agama Islam
Ajaran akhlak menemukan bentuknya yang sempurna pada agama Islam dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Semua itu terkandung dalam ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Agama islam pada intinya mengajak agar percaya kepada Allah dan mengakui-Nya bahwa Dialah pencipta, pemilik, pemelihara, pelindung, pemberi rahmat, pengasih dan penyayang terhadap segala makhluk-Nya.
C. Akhlak pada Zaman Baru
Akhlak pada zaman baru dibangun berdasarkan penyelidikan-penyelidikan menurut kenyataan empiric dan tidak mengikuti gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Mereka menggunakan ajaran akhlak yang bersumber pada logika kemudian melahirkan etika dan moral yang berbasis pada pemikiran akal pikiran yang bersifat individualitik, mandiri dan inofatif. Kemudian diarahkan pada perbaikan yang berkaitan dengan kehidupan para pemuda, wanita dan anak-anak.   

 V. ETIKA, MORAL DAN SUSILA

A. Etika
Etika adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan manusia dan bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
B. Moral
Moral adalah perbuatan manusia yang tumbuh dan berkembang berdasarka norma-orma yang berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat yang bersifat objektif dan universal. 
C. Susila
Kata susila digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Susila dapat pula beraarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan kesopanan. Dengan demikian, kesusilaan lebih mengacu kepada upaya membimbing, meandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup sesuai dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. 
D. Hubungan Etika, Moral dan Susila dengan Akhlak
Keberadaan etika, moral dan susila sangat dibutuhkan dalam rangka menjabarkan dan mengoperasionalisaisakn ketentuan akhlak yang terdapat didalam al-Qur’an. Disisi lain akhlak juga berperan untuk memberikan batas-batas umum dan universal agar apa yang dijabarkan dalam etika moral dan susila tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang luhur dan tidak membawa manusia menjadi sesat. 

 VI. BAIK DAN BURUK

A. Pengertian Baik dan Buruk
Baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan, sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian. Baik juga berarti sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan yang memberikan kepuasan. Kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia.
Buruk adalah sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, dibawah standard dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia.
B. Penentuan Baik dan Buruk
Penentuan baik atau buruk itu bersifat subjektf  dan relatif tergantung pada individu atau kelompok atau paham yang menilainya.
C. Siat dari Baik dan Buruk
Sifat dari baik dan buruk sesuai dengan sifat filsafat yaitu berubah, relative, nisbi, dan tidak universal dan didasarkan pada pandangan intuisisme.
D. Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam
Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-Qur’an dan al-Hadits. Baik dan buruk dalam ajaran Islam dari satu segi mengandung nilai universal dan mutlak yang tidak dapat berubah, sedangkan pada segi lain dapat menampung nilai yang bersifat local, dan dapat berubah sebagaimana yang diberikan oleh etika dan moral. Dengan demikian keuniversalan ketentuan baik buruk dalam ajaran Islam tetap sejalan dengan kekhususan yang terdapat pada nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat. 

VII. KEBEBASAN TANGGUNG JAWAB DAN HATI NURANI

A. Pengertian Kebebasan
Kebebasan adalah segala macam kegiatan manusia yang di sadari, disengaja, dan dilakukan demi suatu tujuan yang selanjutnya disebut tindakan. 
Dilihat dari segi sifatnya, kebebasan apat dibagi tiga yaitu: 
 Kebebasan jasmaniah yaitu kebebasan dalam menggerakkan dan menggunakan anggota badan yang kita miliki.
 Kebebasan kehendak (rohaniah) yaitu kebebasan untuk menghendaki sesuatu.
 Kebebasan moral yaitu tidak adanya ancaman, tekanan, larangan dan desakan yang sampai berupa paksaan fisik.
B. Tanggung Jawab
Tanggung jawab dalam kerangka akhlak adalah keyakinan bahwa tindakannya itu baik, seseorang dikatakan bertanggung jawab apabila secara intuisi perbuatannya itu dapat dipertanggung jawabkan pada hati nurani dan kepada masyarakat.
C. Hati Nurani
Hati nurani atau intuisi merupakan tempat dimana manusia dapat memperoleh saluran ilham dari tuhan. Hati nurani diyakini selalu cenderung kepada kebaika dan tidak suka kepada keburukan, makanya hati nurani harus menjadi salah satu dari pertimbangan dalam melakukan sesuatu.
D. Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak 
Masalah kebebasan tanggung jawab dan hati nurani merupakan faktor dominan yang menentukan suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai perbuatan akhlaki. Disinilah letak hubungan fungsional antara kebebasan, tanggung jawab dan hati nurani dengan akhlak.

VIII. HAK, KEWAJIBAN DAN KEADILAN

A. Hak 
Hak adalah wewenang atau kekeuasaan yang secara etis seseorang dapat mengerjakan, memiliki, meninggalkan, menggunakan atau menuntut sesuatu. Hak juga semacam milik, kepunyaan yang tidak hanya merupakan benda saja, melainkan tindakan, pikiran dan hasil pikiran itu. 
B. Kewajiban
Kewajiban merupakan keharusan fisik yaitu, wajib yang berdasarkan kemanusiaan. Karena hak merupakan sebab timbulnya kewajiban berdasarkan kemanusiaan. Di dalam ajaran Islam, kewajiban di tempatkan sebagai salah satu hukum syara’ yaitu suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala danjika ditinggalakan akan mendapatkan siksa.  
C. Keadilan
Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan terhadap hak yang sah. Dalam literatul Islam, keadilan dapat diartikan isilah yang digunakan untuk menunjukkan pada persamaan atau bersikap tengah-tengah atas dua perkara. Keadilan ini terjadi berdasarkan keputusan akal yang dikonsultasikan dengan agama.
D. Hubungan antara Hak, Kewajiban dan Keadilan dengan Akhlak
Dengan terlaksananya hak, kewajiban dan keadilan maka dengan sendirinya akan mendukung terciptanya perbuatan yang akhlaki.

IX. AKHLAK ISLAMI

A. Pengertian Akhlak Islami
Aklak Islam adalah akhlak/perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging, dan didasarkan pada ajaran Islam yang bersifat universal. Akhlak Islam juga dapat diartikan sebagai akhlak yang menggunakan tolak ukur ketentuan Allah. Bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah pasti baik dalam esensinya. 
B. Ruang Lingkup Akhlak Islami
 Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada tuhan sebagai khalik dengan mengakui dan sadar bahwa tiada Tuhan selain Allah.
 Akhlak terhadap sesama manusia 
Akhlak terhadap sesama manusia secara umum adalah seperti mendahulukna kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Mengendalikan nafsu amarah, memaafkan kesalahan orang lain, tidak menceritakan aib orang dan lain sebagainya.
 Akhlak terhadap lingkungan
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifaan mengandung arti sebagai pengayom, pemelihara, serta bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Jadi sepantasnyalah manusia memelihara lingkungan agar tidak disalahgunakan. 

X. PEMBENTUKAN AKHLAK

A. Arti Pembentukan Akhlak
Pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan sungguh-sungguh dan konsisten. Agar terbentuk pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat pada ibu bapak, saying kepada sesama makhluk Tuhan dan seterusnya. 
B. Metode Pembinaan Akhlak
Banyak metode yang diajarkan Islam dalam membina Akhlak, diantaranya:
- pembinaan akhlak dalam Islam terintegrasi dengan pelaksanaan rukun iman.
- kemudian dengan cara pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung    secara kontinyu.
- dengan cara paksaan yang lama-kelamaan tidak lafi terasa dipaksa.
- pembinaan akhlak melalui keteladanan.
- menganggap diri sebagai yang banyak kekurangannya daripada kelebihan.
- secara efektif dapat juga dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor kejiwaan sasaran yang akan dibina.  
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pebentukan Akhlak
 Factor yang mempengaruhi pembinaan akhlak ada dua yaitu:
Pertama factor dari dalam yaitu potensi fisik, intelektual, dan hati (rohaniah) yang dibawa dari sejak lahir. Kedua faktor dari luar yaitu kedua orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh-tokoh dan pemimpin masyarakat.
D. Manfaat Akhlak yang Mulia
Manfaat akhlak yang mulia diantaranya memperkuat dan menyempurnakan Agama, mempermudah perhitungan amal di akhirat, menghilangkan kesulitan, dan selamat hidup di dunia dan di akhirat. 

XI. ARTI, ASAL-USHUL DAN MANFAAT TASAWUF DALAM ISLAM

A. Pengertian Tasawuf
Dari segi linguistik tasauf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Namun pada intinya tasauf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan diri dari pengaruh kehidupan dunia, dengan kata lain tasauf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.
B. Sumber Tasawuf
Sumber yang membentuk tasauf ada lima yaitu, unsur Islam, unsur masehi (agama nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsure Persia. Dengan melihat keuntungan dari tasauf maka tidak ada alasan untuk tidak menerima tasauf sebagai bagian integral dari ajaran Islam bahkan harus diletakkan pada barisan yang paling depan dalam menyelamatkan kehidupan manusia dari bahaya kehancuran dan kesengsaraan dunia akhirat.    

XII. MAQAMAT DAN HAL

A. Maqamat
Maqamat adalah jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga. Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi sampai menuju Tuhan, dikalangan para sufi berbeda pendapat. Namun maqamat yang disepakati oleh mereka yaitu, al-zuhud, al-wara, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridha.
B. Hal
Hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, sedih, takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-taqwa), ikhlas, rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), dan berterima kasih (al-syuks).
Hal berbeda dengan maqam, tidak diperoleh atas usaha manusia tetapi didapat dari anugrah dan rahmat dari Tuhan. Hal bersifat sementara dating dan pergi, dating dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.  

XIII. MAHABBAH

A. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Mahabbah
Mahabbah secara harfiah berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Al-Mahabbah dapat pula berarti al-wadud yakni yang sangat kasih atau penyayang. Tujuannya untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak yaitu cinta kepada tuhan. Disisi lain mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati, sehingga sifat-sifat yang dicintai Tuhan masuk ke dalam diri yang mencinta dengan tujuan untuk memperoleh kesenangan batiniyah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa. 
B. Alat untuk Mencapai Mahabbah
Alat untuk memperoleh mahabbah oleh sufi disebut sir. Dalam diri manusia ada tiga alat yang dapat digunakan untuk berhubungan denag Tuhan. Pertama  al-qalh hati sanubari, sebagai alat untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan. Kedua roh sebagai alat untuk mencintai Tuhan. Ketiga sir yaitu alat untuk melihat Tuhan. 
C. Tokoh yang Mengembangkan Mahabbah
Tokoh yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Rabi’ah al-Adwiah, seorang zahid perempuan yang besar di Bashrah, Irak. Ia hidup antara tahun 713-801 H. sumber lain menyebutkan bahwa ia meninggal dunia dalam tahun 185H/796M. menurut riwayatnya ia adlah seorang hamba yang kemudian dibebaskan. Dalam hidupnya ia banyak beribadah dan bertaubat serta menjauhi hidup duniawi.
D. Mahabbah dalam al-Quran dan al-Hadits
QS. Ali Imran : 30 dan Al-Maidah : 54 memberikan petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan dapat saling mencintai, karena alat untuk mencintai Tuhan yaitu roh, dan roh manusia berasal dari tuhan. Roh Tuhan dan roh manusia bersatu dan terjadilah mahabbah. Dan untuk mencapai keadaan tersebut dilakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.  

XIV. MA’RIFAH

A. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Ma’rifah
Ma’rifat adalah mengetahui rahasia Tuhan dengan menggunakan hati sanubari, dengan tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui rahasia-rahasia yang terdapat dalam diri Tuhan. Ma’rifat datang setelah mahabbah, hal ini disebabkan karena ma’rifat lebih mengacu kepada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecintaan.
B. Alat untuk Ma’rifah
Alat yang digunakan untuk ma’rifah yaitu qalb (hati). Qalbu yang telah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkaian zikir dan wirid secara teratur maka akan dapat mengetahui rahasia Tuhan. Yaitu setelah hati tersebut disinari oleh cahaya Tuhan. Proses sampainya qalb pada cahaya Tuhan erat kaitannya dengan konsep takhalli, tahalli dan tajalli. 
C. Tokoh yang Mengembangkan Ma’rifah
Dalam literatul tasauf dijumpai dua orang tokoh yang mengenalkan paham ma’rifah yaitu, Al-Gazali dan Zun al-nun al-Misri. Al-ghazali nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Ia pernah belajar pada imam al-Haramain al-juaini. Adapun Zun al-Misri berasal dari Naubah. Suatu negeri yang terletak di Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya yaitu 860 M. Menurut hamka beliaulah puncaknya kaum sufi dalam abad ketiga hijriah.      

D. Ma’rifah dalam al-Quran dan al-Hadits
Ma’rifat berhubungan dengan  nur (cahaya Tuhan). Di dalam Al-Qur’an dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata nur diulang dan sebagisn besarnya dihubungkan dengan kata Tuhan. Misalnya pada QS. Al-Nur : 40 dan QS. Al-Zumar : 22. Ayat tersebut berbicara tentang cahaya Tuhan. Cahaya tersebut dapat diberikan kepada hambanya yang Dia kehendaki. 

XV. AL-FANA, AL-BAQA, DAN ITTHAD

A. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan al-Fana, al-Baqa dan Ittihad
Fana adalah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak yang terpuji, ilmu pengetahuan dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Al-Ittihad adalah penyatuan batin atau rohaniah dengan Tuhan. Dan tujuan dari fana dan baqa itu sendiri adalah ittihad. Adapun kedudukannya adalah merupakan hal, karena hal yang demikian tidak terjadi terus menerus dan juga karena dilimpahkan oleh Tuhan. 
B. Tokoh yang Mengembangkan Fana
Dalam sejarah tasauf, Abu Yazid al-Bustami (w.874) disebut-sebut sebagai sufi pertama kali yang memperkenalkan paham fana dan baqa. Ketika Abu Yazid telah fana’ dan mencapai baqa’ maka dari mulutnya keluarlah kata-kata yang ganjil yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai Tuhan, padahal yang sesungguhnya ia tetap manusia. Yaitu manusia uang mengalami pengalaman batin bersatu dengan Tuhan.  
C. Fana, al-Baqa dan Ittihad dala Pandangan al-Qur’an
QS. Al-Kahfi : 110 dan QS. Al- Rahman : 26-27 memberi petunjuk bahwa Allah swt telah memberi peluang kepada manusia untuk bersatu dengan Tuhan secara rohaniah atau batiniah. Yang caranya antara lain dengan beramal sholeh dan beribadah semata-mata karena Allah, menghilangkan sifat-sifat dan akhlak yang buruk, menghilangkan kesadaran sebagai manusia, meninggalkan dosa dan maksiat dan kemudian menghiasnya dengan sifat-sifat Allah.   

XVI. AL-HULUL

A. Pengertian, Tujuan dan Kedudukan Hulul
Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana’. Al-Hulul dapat pula dikatakan sebagaisuatu tahap dimana manusia dan Tuhan bersatu secara rohaniah. Tujuan dari hulul adalah mencapai persatuan secara batin. Hamka mengatakan bahwa, al-Hulul adalah ketuhanan menjelma ke dalam diri insan, dan hal ini terjadi pada saat kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan hidup kebatinan.
B. Tokoh yang Mengembangkan Paham Hulul
Tokoh yang mengembangkan al-Hulul adalah al-Hallaj. Nama lengkapnya adalah Husein bin Mansur al-Hallaj. Ia lahir tahun 244H/858M di negeri Baidha salah satu kota kecil di Persia. Ia belajar pada seorang sufi yang besar dan terkenal bernama Sahl bin Abdullah al-Tustur di negeri Ahwaz. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah keluar masuk penjara akibat konflik denagn ulama fikih dan akhirnya ia dihukum mati.    

XVII. WAHDAT AL-WUJUD

A. Pengertian, Tujuan dan Wahdat al-Wujud
Wahdat al-Wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal, kesatuan. Sedangkan Al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat Al-wujud adalah kesatuan wujud. Wahdatul wujud juga berarti suatu paham bahwa antara manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. 
B. Tokoh yang Membawa Paham Wahdat al-Wujud
Paham wahdatul wujud oleh muhyidin Ibn Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol ditahun 1165. Setelah selesai studi di Seville, ia pindah ke Tunis di tahun 1145 dan di sana ia masuk aliran sufi. Ditahun 1202M ia pergi ke Mekkah dan meninggal di Damaskus ditahun 1240 M. ia menyajikan ajaran tasaufnya dengan bahasa yang agak berbelit-belit dengan tujuan untuk menghindari tuduhan, fitnah dan ancaman kaum awam sebagaimana yang dialami al-Hallaj.   

XVIII. INSAN KAMIL

A. Pengertian Insan Kamil
Insan kamil berasal dari bahasa Arab. Yaitu dari dua kata insan dan kamil. Secara harfiah insan berarti manusia dan kamil berarti sempurna. Dengan demikian, insan kamil berarti manusia yang sempurna. Insan kamil lebih ditujukan kepada manusia yang sempurna dari segi pengembangan potensi intelektual, rohaniah, intuisi, kata hati, akal sehat, fitrah dan yang bersifat batin lainnya. 
B. Ciri-ciri Insan Kamil
- berfungsi akalnya secara optimal 
- berfungsi intuisinya 
- mampu menciptakan budaya
- menghiasi diri dengan sifat-sifat ketuhanan
- berakhlak mulia 
- berjiwa seimbang

XIX. TARIKAT

A. Pengertiban dan Tujuan Tarikat
Tarikat adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seorang sufi yang didalamnya berisi amalan ibadah dan lainnya yang bertemakan menyebut nama Allah dan sifat-sifat-Nya, disertai penghayatan yang mendalam. Amalan dalam tarikat ini ditujukan untuk memperoleh hubungan sedekat mungkin (secara rohaniah) dengan Tuhan.
B. Tarikat yang Berkembang di Indonesia
- Tarekat Qadariyah, didirikan oleh syaikh Abdul Qadir Jaelani (1077-1166)
- Tarekat Rifa’iyah, didirikan oleh syaikh Rifa’I 
- Tarekat Naqsyabandiah, didirikan oleh Muhammad bin Bhauddin al-Uwaisi 
   al-Bukhari (727-791 H)
- Tarekat Sammaniyah, didirikan oleh syaikh Saman (w.1720)
- Tarekat Khalwatiyah, didirikan oleh Zahiruddin (w. 1397) 
- Tarekat al-Haddad, didirikan oleh Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad 
   al-Haddad.
- Tarekat Khalidiyah, didirikan oleh Syaikh Sulaiman Zuhdi al-Khalidi    
C. Tata Cara Pelaksanaan Tarikat
Tata cara pelaksanaan tarekat antara lain: zikir, ratib, muzik, menari dan bernafas. Selain itu peril juga melakukan latihan batin, riadah dan mujahadah.

XX. PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN DAN PERLUNYA AKHLAK TASAWUF

A. Pengertian Masyarakat Modern
Masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat rasional, berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, menghargai waktu, bersikap terbuka, dan berfikir obyektif.
B. Problematika Masyarakat Modern
 Disintegrasi ilmu pengetahuan 
 Kepribadian yang terpecah (split personality)
 Penyalahgunaan iptek
 Pendangkalan iman
 Pola hubungan materialistik
 Menghalalkan segala cara
 Stres dan frustasi
 Kehilangan harga diri dan masa depan 
C. Perlunya Pengembangan Akhlak Tasawuf
Dalam mengatasi problamatika kehidupan masyarakat modern saat ini, akhlak tasauf harus dijadikan salah satu alternatif terpenting. Ajaran akhlak tasauf perlu disuntikkan kedalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan teknologi , ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain sebagainya. Perlu dilandasi ajaran akhlak tasauf.    
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:47:00 PM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :
Click Here!

Entri Populer

  • Langkah Pertama Bisnis Online: Membuat Akun Payoneer
    Alhamdulillah, berkah Ramadan, setelah memabaca e-book premium dari mas Dian  Umbara, saya mantap untuk mengikuti jejaknya. Beliau menjadi ...
  • Bebek Kaleo, Bebek Paling Lembut di Dunia
    Pernah makan bebek nggak? Kalian harus coba masakan bebek yang satu ini, Bebek Kaleo. Saat jalan-jalan ke kota Bandung, tidak lengk...
  • Cari Kuliner Nusantara? di Cipika Aja!
    Beberapa tahun terakhir banyak media yang memberitakan tentang penipuan-penipuan saat berbelanja online. Awalnya ngeri juga dengar berita-...

Blog Archive

  • ►  2017 ( 1 )
    • September 2017 ( 1 )
  • ►  2016 ( 2 )
    • June 2016 ( 2 )
  • ►  2015 ( 18 )
    • September 2015 ( 4 )
    • August 2015 ( 8 )
    • May 2015 ( 1 )
    • April 2015 ( 2 )
    • March 2015 ( 1 )
    • February 2015 ( 1 )
    • January 2015 ( 1 )
  • ►  2014 ( 46 )
    • December 2014 ( 3 )
    • November 2014 ( 5 )
    • October 2014 ( 1 )
    • September 2014 ( 7 )
    • August 2014 ( 4 )
    • July 2014 ( 5 )
    • June 2014 ( 11 )
    • May 2014 ( 6 )
    • April 2014 ( 1 )
    • March 2014 ( 1 )
    • February 2014 ( 1 )
    • January 2014 ( 1 )
  • ►  2013 ( 22 )
    • December 2013 ( 1 )
    • November 2013 ( 1 )
    • October 2013 ( 2 )
    • September 2013 ( 3 )
    • August 2013 ( 2 )
    • July 2013 ( 2 )
    • June 2013 ( 1 )
    • May 2013 ( 2 )
    • April 2013 ( 2 )
    • March 2013 ( 2 )
    • February 2013 ( 3 )
    • January 2013 ( 1 )
  • ►  2012 ( 26 )
    • December 2012 ( 2 )
    • November 2012 ( 1 )
    • October 2012 ( 1 )
    • September 2012 ( 3 )
    • August 2012 ( 2 )
    • July 2012 ( 2 )
    • June 2012 ( 2 )
    • May 2012 ( 2 )
    • April 2012 ( 6 )
    • March 2012 ( 3 )
    • February 2012 ( 1 )
    • January 2012 ( 1 )
  • ▼  2011 ( 29 )
    • December 2011 ( 1 )
    • November 2011 ( 1 )
    • October 2011 ( 4 )
    • September 2011 ( 4 )
    • August 2011 ( 4 )
    • July 2011 ( 3 )
    • June 2011 ( 2 )
    • May 2011 ( 3 )
    • April 2011 ( 1 )
    • March 2011 ( 3 )
    • February 2011 ( 1 )
    • January 2011 ( 2 )
AR Mutajalli. Powered by Blogger.

About Me

erig
View my complete profile

Blogroll

ASEAN Blogger
My Community :
Copyright 2016 AR Mutajalli - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates