AR Mutajalli

Buktikan Pada Dunia Bahwa Kita Pernah Ada Dengan Karya Dan Tulisan

  • Home
  • About
  • Vlog
  • Hobi
  • Jurnalistik
  • Galeri
Home » Archive for August 2012

Saturday, August 18, 2012

Resensi Buku Semiotika

Resensi Buku Semiotika
Landasan Teori dan Kerangka Berpikir

Koleksi:

1. Semiotika Visual: Konsep, isu, dan problem ikonisitas. Karya Kris Budiman
2. Imaji, Musik, Teks: Analisis semiologi atas fotografi, iklan, film, musik, alkitab, penulisan dan pembacaan serta kritik sastra. Karya Roland Barthes.
3. Semiotika Komunikasi. Karya Drs. Alex Sobur, M.Si.
4. Foto Jurnalistik: Dalam dimensi utuh. Karya Taufan Wijaya.
5. Kamus Jurnalistik: Daftar istilah penting jurnalistik cetak, radio, dan televisi. Karya Asep Syamsul M. Romli
6. Kontribusi Semiotika Dalam Memahami Bahasa Agama. Karya Drs. Akhmad Muzakki, MA.
7. Metode Penelitian Kualitatfi: Edisi revisi. Karya Prof. DR. Lexy J. Moleong, M.A.

Identifikasi dan Rangkuman

1. Pada buku semiotika visual karya Kris Budiman, di dalamnya banyak menjelaskan tentang semiotika. Hal ini sangat membantu karena fokus dalam skripsi saya akan mengambil teori tentang semiotika. Banyak tokoh-tokoh semiotika yang dibahas dalam buku ini. Seperti Charles Sanders Pierce  dan Ferdinan de Saussure. Dalam skripsi saya rencananya ingin mengambil teori Charles S. Pierce. Jadi dari buku ini saya akan memasukkan penjelasan teori tentang  Pierce. 

Sebuah tanda representamen, menurut Pierce adalah suatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu dinamakan sebagai interpretan dari tanda yang pertama pada gilirannya mengacu pada objek. Dengan demikian, sebuah tanda atau representamen memiliki relasi triadik langsung dengan interpretan dan objeknya. Apa yang disebut sebagai proses semiosis merupakan suatu proses yang memadukan entitas yang disebut sebagai representamen tadi dengan entitas lain yang disebut sebagai objek. Proses semiosis ini sering pula disebut sebagai signifikasi.

Upaya klasifikasi yang dikerjakan oleh Pierce terhadap tanda-tanda sungguh tidak bisa dibilang sederhana, melainkan sangatlah rumit. Meskipun demikian, pembedaan tipe-tipe tanda yang agaknya paling simpel dan fundamental adalah antara ikon, indeks, dan simbol yang didasarkan atas relasi diantara representamen dan objeknya. 

2. Dibuku ini juga dijelaskan tentang fotografi. Foto berita adalah pesan. Pesan ini dibangun oleh beberapa elemen, yakni sumber pemancar pesan, saluran transmisi, dan pihak penerima. Yang disebut sebagai sumber pemancar pesan adalah para insan pers yang berkarya disuratkabar atau sekelompok teknisi yang selain bertugas memfoto, memilah, menyusun, dan mengotak-atiknya, juga bertugas memberi judul, keterangan singkat, dan komentar. 

Pada dasarnya, scene (peristiwa, aktivitas, pemandangan) yang terekam dalam foto merupakan realitas literal yang mudah dibaca. Tetapi, pada saat proses pemindahan objek nyata itu ke dalam sebentuk imaji (citra, foto, gambar) terjadi reduksi, entah reduksi proporsi atau ukuran, sudut pandang, maupun warna. Meski demikian, proses pemindahan itu tidak pernah mereduksi proses transformasi itu sendiri (dalam pengertian matematis).

3. Buku ini termasuk yang sangat lengkap membahas tentang semiotika. Khususnya tentang semiotika Charles Sanders Pierce. Membahas mulai sejarah Pierce sampai teori-teorinya. Pierce adalah seorang pemikir yang argumentatif kata Paul Cobley seperti yang dikutip dalam buku ini. 

Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan. Misalnya potret dan peta. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer atau semena, hubungan berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. 

4. Buku ini lebih khusus membahas tentang foto jurnalistik. Seperti objek penelitian yang ada dalam skripsi saya nantinya. Seperti membahas tentang sejarah foto jurnalistik, tokoh jurnalis foto, dan etika dalam mendapatkan foto jurnalistik. Foto jurnalistik pertama kali muncul pada Senin, 16 April 1877. Saat surat kabar harian The Daily Graphic di New York memuat gambar yang berisi berita kabakaran hotel dan salon di halaman satu. Terbitan ini menjadi tonggak awal adanya foto jurnalistik pada media cetak yang saat itu hanya berupasketsa. 

Jurnalis foto bukanlah profesi eksklusif meski dalam diri mereka melekat hak-hak yang bersifat istimewa. Dibanding masyarakat umum jurnalis foto memiliki lebih banyak keleluasaan dalam memotret. Mereka bisa menjangkau tempat-tempat terlarang atau terlindung dari penglihatan publik. Mereka leluasa memotret presiden di istana negara, memotret aktivitas orang, alat-alat dan latihan militer, tempat-tempat privat seperti isi rumah dan kamar, juga tempat dan properti yang dilarang dengan alasan komersial seperti toko, mal, pabrik, dan seterusnya. Pemberian akses yang lebih luas kepada jurnalis foto semata-mata untuk memenuhi hak masyarakat akan informasi. 

5. Kamus jurnalistik ini juga sangat membantu nantinya khususnya jika ada istilah-istilah jurnalistik yang belum pamiliar dimasyarakat. Dengan bantuan kamus jurnalistik ini mempermudah kita untuk menjelaskan masksud dari istilah tersebut. 

6. Buku ini juga banyak menjelaskan tentang semiotika. Seperti pengertian tentang semiotika, elemen-elemen dasar tentang semiotika dan lain-lain. Elemen dasar semiotika ada tiga yaitu komponen tanda, relasi tanda, dan tingkatan tanda. Ahli filsafat dari Amerika, Charles Sanders Pierce menegaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan sarana tanda. Sudah pasti bahwa tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi. 

Diantara sekian banyak pakar tentang semiotika ada dua orang yang patut disebutkan secara khusus dalam hubungannya dengan kelahiran semiotika modern. Yaitu Charles Sanders Pierce dan Ferdinan de Saussure. Pierce sebagai ahli filsafat dan ahli logika lebih memusatkan perhatiannya pada pertanyaan bagaimana kita menalar? Sementara Saussure adalah seorang yang ahli dibidang linguistik, pertanyaan yang mengganggunya adalah apakah sebenarnya bahasa itu?. 

7. Selain buku-buku tentang jurnalistik, buku penelitian kualitatfi juga sangat dibutuhkan. Karena semiotika penelitiannya pasti menggunakan penelitian/metode kualitatif. Metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
5:46:00 PM

Thursday, August 9, 2012

MAKALAH: MANUSIA SEBAGAI OBJEK DAKWAH

MAKALAH: MANUSIA SEBAGAI OBJEK DAKWAH
PENDAHULUAN

Kata dakwah (mengajak), secara esensial mengandung tiga dimensi yang bersifat integral, yaitu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Tiga dimensi tersebut ialah penyadaran yang ditujukan kepada fitrah manusia sebagai makhluk monoteis (bertauhid) dan beriman kepada Allah, pengarahan yang ditujukan kepada hawa nafsu, dan bimbingan yang ditujukan kepada akal sebagai power of reason (kekuatan penalaran). Dari tiga dimensi tersebut, jelaslah bahwa yang menjadi subyek dan obyek dakwah adalah manusia. 

PEMBAHASAN

1. Dimensi Penyadaran

Pada hakikatnya, dakwah menghendaki agar manusia sadar terhadap jati dirinya sebagai makhluk yang beriman kepada Allah. Menurut Ibnu Taimiyah “pada dasarnya manusia dilahirkan ke dunia tidak memiliki pengetahuan apapun.” ungkapan ini berlandaskan pernyataan Alquran, “sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara di antara manusia dengan keputusanNya” (QS Al-Naml : 78).
ان ربك يقضى بينهم بحكمه وهوالعزيزالعليم

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia kondisi awalnya tidak memiliki apa-apa. Namun demikian, manusia dibekali dengan daya-daya potensial yang disebut fitrah (QS Al-Rum : 30).

Daya-daya tersebut inheren pada diri manusia, sehingga ia dapat menduduki posisi sebagai al-Ahsan al-Taqwim (QS Al-Thin : 4). Mengenai hal ini Ibnu Taimiyah membagi daya-daya yang terkandung dalam fitrah pada tiga bagian. Pertama, daya intelek (quwwah al-aql), yaitu suatu daya yang berpotensi untuk mengenal dan mengtauhidkan Allah. Dengan daya ini manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Di samping itu, dengan daya ini manusia memperoleh pengetahuan. Inilah yang menjadi indikator manusia bebeda dengan makhluk lainnya, yakni berfikir untuk mencari kebenaran. Oleh karenanya, manusia yang mengingkari terhadap daya ini, konsekuensinya dia akan menjadi kufur dan musyrik. 

Menurut Dr. Juhaya S. Praja, “di dalam daya intelek terkandung daya nazhar dan iradah. Daya nazhar terdiri dari dimensi kognisi, persepsi dan komprehensi. Sedangkan daya iradah terdiri dari dimensi emosional dan kemampuan menilai. Dengan demikian, secara naluriah manusia cenderung untuk berbuat kebajikan. Maka dakwah dalam proses  penyadaran membimbing akal manusia agar mampu mengontrol jati dirinya sebagai manusia yang ideal dan beriman.

Kedua, daya ofensif yakni suatu daya yang berpotensi menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan dan pragmatis. Jika seseorang mengingkari terhadap daya ini, maka ia akan terjerumus pada perbuatan-perbuatan hedonistis yang bertentangan dengan syariat, seperti perzinahan, perjudian, korupsi dan jenis perbuatan lainnya yang serupa. 

Ketiga, daya defensif yaitu daya yang berpotensi untuk menghindari kejahatan. Dengan demikian orang yang mengingkari daya ini, niscaya ia akan berbuat kejahatan yang tidak manusiawi, seperti pembunuhan dan penganiayaan.

Jika daya ofensif dan defensif tersebut terkontrol oleh daya intelek, konsekuensinya manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia di bumi ini. Sebab dengan akalnya dia dapat melebihi malaikat (QS Al-Baqarah : 31-34). Namun demikian, seandainya daya intelek tidak dapat mengontrol kedua daya itu, bahkan daya intelek dapat dikuasai oleh daya ofensif dan defensif, maka manusia akan tersesat menjadi asfal al-safilin atau makhluk yang terendah melebihi derajat binatang (QS Al-Thin : 5). ثم رددناه اسفل سا فلين   Karenanya, tahap awal dalam berdakwah adalah mengingatkan kembali kepada fitrah manusia dengan proses penyadaran bahwasanya ia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci. Tentunya dari penyadaran output yang diharapkan adalah taubat, yakni sebuah proyeksi pengakuan kembali manusia terhadap eksistensinya sebagai makhluk yang harus mengabdi kepada Allah (QS Al-Dzariat : 56). وماخلقت الجن والانس الا ليعبدون

2. Dimensi Pembebasan.

Setelah melakukan penyadaran, maka langkah selanjutnya adalah aktualisasi pembebasa, yaitu menghapus dunia lama yang tidak islami menjadi islami. Dengan kata lain, dakwah adalam konteks pembebasan berarti melakukan rekonstruksi masyarakat islami. Oleh karenanya proses dakwah dalam pembebasan ini mencakup empat unsur, yaitu:
a. Keyakinan
b. Fikrah (pemikiran
c. Sikap
d. Perilaku

Menurut Muhammad Naquib a-Atas, yang dimaksudkan dengan Islamisasi adalah “Proses pembebasan manusia, mulai dari segenap tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis dan budaya lokal yang irasional hingga pada pembebasan manusia darui pengaruh sekular yang membelenggu pikiran dan perilakunya. Dengan itu manusia yang islami adalah manusia yang pikiran dan bahasanya tidak lagi dipengaruhi oleh magi, animisme, tradisi kultural dan sekuralisme, sehingga sikap dan perilakunya mengespresikan nilai-nilai islam. 

Dalam rangka mengislamisasikan empat unsur tersebut, maka diperlukan aktualisasi konsep tauhid. Minimal ada tiga hal yang dapat kita ambil dari esensi ajaran tauhid. Yaitu:
a. Tujuan pencipataan alam semseta
b. Pembebasan dan kemerdekaan manusia dari perbudakan
c. Penghambaan yang dilakukan hanya kepada Allah

Jika tauhid ini dijadikan landasan dalam proses dakwah, maka fungsi dakwah juga akan mampu menyelamatkan manusia dari sekularisme yang cenderung mengkultuskan manusia sebagai Tuhan. 

3. Dimensi Pelembagaan. 

Sebagai manifestasi teologis, dakwah harus diimplementasikan dalam kehidupan sosial, yakni dengan melembagakan nilai-nilai islam ke tatanan masyarakat. Kewajiban mengajak umat manusia supaya masuk ke jalan Allah, diutamakan kepada setiap muslim. 

Jika proses dakwah telah menginjak pada tahap pelembagaan, pada dasarnya kewjiban dakwah merupakan kewajiban setiap pemeluk, atau sekurang-kurangnya ada segolongan umat yang melakukannya. Segolongan umat yang dimaksud disini adalah sebuah lembaga dakwah formal yang telah dikelola dan digerakkan dalam manajemen islami. Misalkan lembaga dakwah formal yang ada di Indonesia, contohnya adalah BAZIS DKI, Dompet Du’afa, Dewan Dakwah Islam Indonesia, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, dan sebagainya. 

Dengan demikian orientasi dakwah dalam tahap pelembagaan adalah dakwah bi al-hal, yang dalam hal ini dakwah merupakan bagian yang pasti ada dalam kehidupan masyarakat. Maka tujuan sentral dari pelembagaan dakwah, yaitu mewujudkan sistem kemasyarakatan yang islami, sehingga melahirkan umat yang terbaik. Dari sinilah terjadinya interaksi anatar da’i dengan jamaah dengan dakwah. Konsekuensi logisnya diharapkan dapat melahirkan kepempimpinan dakwah yang professional.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
1:49:00 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :
Click Here!

Entri Populer

  • Langkah Pertama Bisnis Online: Membuat Akun Payoneer
    Alhamdulillah, berkah Ramadan, setelah memabaca e-book premium dari mas Dian  Umbara, saya mantap untuk mengikuti jejaknya. Beliau menjadi ...
  • Bebek Kaleo, Bebek Paling Lembut di Dunia
    Pernah makan bebek nggak? Kalian harus coba masakan bebek yang satu ini, Bebek Kaleo. Saat jalan-jalan ke kota Bandung, tidak lengk...
  • Cari Kuliner Nusantara? di Cipika Aja!
    Beberapa tahun terakhir banyak media yang memberitakan tentang penipuan-penipuan saat berbelanja online. Awalnya ngeri juga dengar berita-...

Blog Archive

  • ►  2017 ( 1 )
    • September 2017 ( 1 )
  • ►  2016 ( 2 )
    • June 2016 ( 2 )
  • ►  2015 ( 18 )
    • September 2015 ( 4 )
    • August 2015 ( 8 )
    • May 2015 ( 1 )
    • April 2015 ( 2 )
    • March 2015 ( 1 )
    • February 2015 ( 1 )
    • January 2015 ( 1 )
  • ►  2014 ( 46 )
    • December 2014 ( 3 )
    • November 2014 ( 5 )
    • October 2014 ( 1 )
    • September 2014 ( 7 )
    • August 2014 ( 4 )
    • July 2014 ( 5 )
    • June 2014 ( 11 )
    • May 2014 ( 6 )
    • April 2014 ( 1 )
    • March 2014 ( 1 )
    • February 2014 ( 1 )
    • January 2014 ( 1 )
  • ►  2013 ( 22 )
    • December 2013 ( 1 )
    • November 2013 ( 1 )
    • October 2013 ( 2 )
    • September 2013 ( 3 )
    • August 2013 ( 2 )
    • July 2013 ( 2 )
    • June 2013 ( 1 )
    • May 2013 ( 2 )
    • April 2013 ( 2 )
    • March 2013 ( 2 )
    • February 2013 ( 3 )
    • January 2013 ( 1 )
  • ▼  2012 ( 26 )
    • December 2012 ( 2 )
    • November 2012 ( 1 )
    • October 2012 ( 1 )
    • September 2012 ( 3 )
    • August 2012 ( 2 )
    • July 2012 ( 2 )
    • June 2012 ( 2 )
    • May 2012 ( 2 )
    • April 2012 ( 6 )
    • March 2012 ( 3 )
    • February 2012 ( 1 )
    • January 2012 ( 1 )
  • ►  2011 ( 29 )
    • December 2011 ( 1 )
    • November 2011 ( 1 )
    • October 2011 ( 4 )
    • September 2011 ( 4 )
    • August 2011 ( 4 )
    • July 2011 ( 3 )
    • June 2011 ( 2 )
    • May 2011 ( 3 )
    • April 2011 ( 1 )
    • March 2011 ( 3 )
    • February 2011 ( 1 )
    • January 2011 ( 2 )
AR Mutajalli. Powered by Blogger.

About Me

erig
View my complete profile

Blogroll

ASEAN Blogger
My Community :
Copyright 2016 AR Mutajalli - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates